Sabtu, 20 Juli 2019

school of me

bismillah...

alhamdulillah, udah hampir dua minggu ini bapaknya umar punya waktu yang lebih banyak di rumah. setelah melalui pemikiran yang alot dan panjang sejak tahun lalu, akhirnya diputuskan bahwa mulai tahun ajaran ini bapake sudah resign dari sekolah. sedih? ya pastilah. sudah empat tahun membersamai anak-anak di sekolah tiap hari, eh tiba-tiba jadi di rumah aja seharian. eits, tapi ini demi misi yang jauh lebih penting, lho. duile, misi apaan sih?
mau tau? apa mau tau banget?
hahahhahaa
jadi gini pemirsah.
sebenernya udah lamaaaa banget bapake tuh bercita-cita pengen punya sekolah sendiri, selain punya toko mainan sendiri ya tentunya hehe. iya bener, doi pengen banget punya sekolah dan muridnya ya anak-anaknya sendiri. yaa model homeschooling gitu lah, bukan sekolah formal.
awalnya kita pengen umar yang ikut homeschooling, tapi berhubung umarnya lebih seneng belajar di sekolah daripada di rumah, yasudah deh homeschooling hanya jadi wacana belaka (serius lho ini bukan alasan kalo emaknya males hahaha). Dan sampai saat ini umar masih betah di sekolahnya, alhamdulillah. karena sebenernya umar itu tipe anak yang mudah untuk belajar. dia itu bisa duduk tenang dengerin gurunya, yaa minimal bisa duduk tanpa jalan-jalan atau nengok kanan-kiri deh.
tapi kalau ali, hm, ini agak gimana gitu hahaha. ali itu jauuh lebih aktif dan gak bisa diem. tingkat distract nya tinggi, emosinya juga naik turun, gampang meledak-ledak, tapi sensitif banget anaknya. puyeng gak? kadang marah meledak-ledak, semenit kemudia dia bisa nangis sesengukan. perasa banget anaknya, persis kayak emaknya hahaha.
jadi, atas dasar keunikan ali itulah, bapake memutuskan untuk turun gunung ngajarin sendiri anaknya. biar apa? biar tepat sasaran aja. karena kan kita orangtuanya tau bangaimana cara menghadapi tipe anak seperti ali. lagipula, ali seneng banget diajarin bapaknya lho.
"ali mau di sekolah abang atau mau belajar sama bapak?" tanya saya kepada ali
"mau sama bapak"
begitu mulu jawabannya, ya seenggaknya sampai saat inilah. tau dah besok-besok.
hihihii
 jadi, alhamdulillah, udah dari taun lalu kita buka kelas belajar untuk anak-anak. belajarnya sih baru ngaji aja, sama calistung lah dikit-dikit. muridnya juga cuma lima anak dan jam belajarnya cuma satu setengah jam, seminggu tiga kali. dan tahun ini alhamduilillah sudah ada dua kelas, yaitu kelas SD san TK. Ali dan keempat temannya masuk ke kelas SD belajar sama bapak fajar. sedangkan untuk kelas TK saat ini ada tiga murid dan belajarnya sama saya. 
emang loe bisa ngajar, rhan? ENGGAK!
bener deh, ngajarin anak-anak itu susyaaaaahnya masyaAllah. dan saya sama sekali gak punya basic ngajar atau pendidikan keguruan. trus kok saya mau? nekat? yaa nggak juga lah. saya cuma merasa kira-kira apa ya yang bisa saya lakuin untuk orang-orang disekitar saya. khususnya untuk anak-anak saya sendiri. awalnya cuma mau ngajarin anak sendiri, eh ada temen yang minta anaknya juga ikut belajar di sini, ya uwis kita jadi belajar sama-sama. sampai akhirnya saya menyadari bahwa ngajarin anak sendiri itu lebih susaaaah dibandingkan ngarin anak orang. kenapa? menurut saya, saat saya ngajarin anak saya sendiri, saya mematok standar yang tinggi untuk mereka. mereka harus bisa ini, bisa itu, hafal ini, hafal itu, yang pada akhirnya bikin saya stres sendiri, capek sendiri. tenaga saya habis untuk berpikir kenapa anak saya belum bisa ini, belum bisa itu, belum hafal ini, belum hafal itu. lelaaah kan. padahal yang harusnya saya tau kalau yang kita ajarin itu seorang anak dengan keunikannya, bukan robot. dan akhirnya, saya menurunkan standar jauuuuh dan mulai memahami bawa belajar itu proses, butuh waktu yang lama plus butuh kesabaran ekstra. apalagi dengan tipe anak yang beda-beda, gak bisa pake satu standar untuk semua anak, ya gak. (sumpah ini gw ngomong apaan sih, kayak bener aja hahaha).
yaa intinya gitu lah, learning by doing, banyak nanya sama suami yang kebetulan sudah lebih dulu jadi guru dan punya banyak pengalaman tentang ngajarin anak-anak. banyak diskusi, banyak nanya, banyak curhat, banyak minta pendapat, dan banyak minta duit, eh hahaha maap keceplosan. yaa gitu lah obrolah hari-hari kita gak jauh-jauh dari tema sekolah anak dan tema keuangan rumah tangga tentunya ya.
oia, ini minggu pertama anak-anak belajar di rumah kami. exited, deg-degan, riweuh, dan perasaan campur aduk lainnya yang saya rasain. masalahnya kita bukan cuma ngajarin anak sendiri, tapi ada enam anak orang lain yang harus kita ajarin juga. tentunya ya tanggung jawab dan bebannya jauh lebih berat lagi.
mudah-mudahan berawal dari sekolah kecil ini, impian bapake pengen punya sekolah sendiri pelan-pelan bisa terrealisasi. sekolah yang sesuai dengan minat dan bakat anak, sekolah yang fun, santai, dan yang penting anaknya suka. first thing first, pilih yang paling prioritas diantara yang prioritas. karena kelak kita akan ditaya tentang waktu yang kita habiskan selama di dunia untuk apa. seperti nama sekolah kita, school of me, sekolah yang gw banget gitu lho simple nya hahaha. maap yak gak kreatif nyari nama sekolah. etapi, ini nama school of me udah ada dari beberapa taun lalu sebelum sekolahnya ada bahkan. pokoknya yang penting ada namanya dulu lah, ya gak?
doain juga ya pemirsah, mudah-mudahann kita istiqomah sampe kelar enam tahun tingkat SD. abis itu mereka mau sekolah formai, pesantren atau mau lanjut homeschoolingnya, it's up to them lah. yang penting mereka bahagia, gembira riaaaaa.
sekian deh tulisan ini berhubung anak bayik udah ikutan ngetok-ngetok laptop, daripada dia makin rusuh lebih baik kita sudahi saja yaa :)





Selasa, 22 Januari 2019

Ayah

Bismillaah... 
 Awal ramadhan tahun ini saya mendapati berita yang membuat saya sedih. Bermula dari beberapa misscall yang masuk ke ponsel saya dari kakak saya di pamulang. "Ada apa ini miscal banyak banget?" (perasaan saya jadi tak karuan, khawatir ada sesuatu hal yang terjadi). Ya, benar saja. Beberap pesan wa dari kakak saya masuk dan mengabarkan bahwa ayah saya masuk ugd. Deg! ada apa? ayah kenapa? sakit apa? begitulah kira-kira yang ada di benak saya. Ayah saya yang kerja merantau di Sulawesi sana kembali ke Jakarta dengan kabar yang kurang mengenakkan. "Iya rhan, ayah di ugd RS Sa** As**, ayah gak papa, cuma kayaknya kena angin duduk lagi nih". Begitu kata ayah saat saya telepon. Ternyata, sebelum kembali ke Jakarta, ayah juga sempat di bawa ke ugd di salah satu rumah sakit di Kendari. Keluhannya sama, seperti kena angin duduk, tidak bisa BAB, tidak bisa buang angin, tidak bisa sendawa, dan sesak nafas. Ini bukan kali pertama saya mendapat kabar ayah kena angin duduk. Ayah bercerita bahwa ayah pernah beberapa kali terserang angin duduk, dan alhamdulillah sembuh keesokan hari ini. Tapi, berbeda dengan kali ini. Sudah beberapa hari perut ayah kembung dan sesak nafas. Hasil ronsen di Rs menunjukkan banyak gelembung-gelembung kecil di perut ayah. Namun dokter ugd tidak bisa memastikan apa gelembung tersebut dan tidak bisa memberikan diagnosis. Tidak ada dokter spesialis hari itu, karena saat itu weekend. Akhirnya ayah diizinkan pulang dengan bekal obat pencahar. Hasilnya? qodarullah, semalaman ayah tidak bisa tidur karena sesak. Obat pencahar juga belum berhasil membuat ayah BAB. Di urut pun sudah, tapi hasilnya masih sama saja. Jam 00.30 pagi kakak saya membangunkan, dia bilang ayah sepertinya harus di bawa ke RS lagi karena khawatir dengan kondisi ayah. Sayangnya, saya tidak bisa ikut menemani ayah karena harus menjaga tiga anak bocah yang masih terlelap pulas. Ayah, kakak Dan suami saya berangkat pagi buta ke RS sar* as**. Ternyata dokter ugd tidak bisa mengambil tindakan apapun sehingga ayah di rujuk ke RS Fatmawa**. Hasilnya sama, dokter ugd juga tidak bisa mendiagnosis penyakit ayah Dan tidak bisa melakukan tindakan apapun. Ayah di rujuk lagi ke RS swasta di daerah BSD. Di sana, ayah langsung masuk ugd Dan dokter jaga segera menghubungi dokter specialis. Tak lama dokter specialis pun datang dan mengambil tindakan untuk mengoperasi ayah. Apa pasal langsung dioperasi? Hasil ronsen ayah menunjukkan banyak gelembung di dalam perut, namun dokter harus memastikan Ada apa di dalam perut ayah sehingga membutuhkan tindakan operasi. saya menunggu dengan rasa cemas Dan galau. Sedih melihat kondisi ayah yang tidak lagi muda harus mengalami rasa sakit seperti itu. Sampai akhirnya pagi pun datang, Dan saya mendapati kabar dari kakak saya bahwa Ada tumor di dalam usus besar ayah. Denger kata tumor, saya Makin gak karuan. Kenapa bisa Ada tumor? tumor ganas atau tidak? tapi, kalau melihat dari pola hidup ayah, penyakit ini mungkin saja bisa terjadi. merokok, tidak olahraga, makan sembarangan, kurang istirahat sepertinya memang tidak diragukan bahwa penyakit ini bisa muncul. *** kini, sudah satu bulan sejak ayah operasi pengangkatan tumor. Bagaimana kelanjutannya? *tarik napas panjang dulu Awal ramadhan adalah jadwal ayah cek up setelah operasi. Ayah ditemani kakak saya berangkat ke RS. Menjelang berbuka puasa, Ada wasap dari kakak yang mengabarkan bahwa qodarullah, tumor yang kemarin diangkat ialah tumor ganas ��. Pilihannya ialah harus kemo! yang tadinya laper nunggu bedug magrib, tiba-tiba saya jadi. ngerasa kenyang, perasaan sedih gak karuan. Mendengar kata kemo apa lagi, membuat saya Makin sedih. trus, gimana hasil labnya? Ini adalah kabar gembira ditengah gempuran kabar sedihnya. Hasil cea ayah 2,2 (batas normal cea adalah 5). itu tandanya kondisi ayah normal Dan belum Ada penyebaran sel kanker di organ tubuh ayah. Alhamdulillah Tapi tetap saja harus kemo untuk mencegah penyebaran sel kanker. Alhamdulillah ayah juga merasa sedikit lega. Mulai sejak itu, saya rajin googling tentang kanker usus Dan kemoterapi. juga bertanya pada teman-teman yang paham tentang kemo Dan kanker. Banyak information yang saya dapati Dan masih Ada kesempatan untuk ayah sembuh insyaAllah. Diusianya yang memasuki 60 tahun, tentu ini bukanlah Hal yang mudah untuk dihadapi. Tapi, Ada hikmah besar yang Allah berikan dalam setiap peristiwa, bukan. Salah satunya ialah, ayah berhenti merokok! setelah berpuluh-puluh tahun lamanya. Alhamdulillah, bulan ramadhan ini ayah jg ikut berpuasa. semoga ayah terus semangat Dan kuat ya. Laa tahzan, innaLLaha ma'ana...

Senin, 21 Januari 2019

Hamnah

Ini cerita tentang Hamnah...
Adzan magrib sudah bergema, waktu mwnunjukkan pukul 18.00. Hari itu tanggal 01 oktober 2018. Saya sudah berbaring di kasur, sembari menikmati sensasi mulas yang luar biasa. Baru saja dua menit lalu air ketuban pecah. Byaar, seperti balon yang meletus lalu mengeluarkan air. Basah.
“tahan dulu um, tahan dulu. ayo jalan ke kasur. jangan lahiran di sini.” seru bidan setengah panik karena melihat gelagat saya yang sudah mau ngeden :D
Tertatih, saya dibopong oleh bidan Via menuju kasur. Dan inilah saatnya. Saat-saat yang saya nantikan sejak 40 minggu lalu.



Hamnah lahir diusia kehamilan saya yang sudah lewat 40 minggu. Sejak usia 38 minggu saya sudah harap-harap cemas, galau, rungsing karena kepikiran kenapa saya belum mulas juga. Pengalaman lahiran ketiga abangnya, rata-rata maju dari due date nya. Umar lahir diusia 39 minggu, Isa lahir di 38 minggu, hanya Ali saya yang lahir tepat diusia 40 minggu pas dengan due date nya.
Kehamilan keempat ini banyak dramanya. Banyak emosinya yang sebenernya gak perlu ada, dan akhirnya berdampak sama anak-anak yang lainnya. Saya jadi lebih sering banget marah. Bukan cuma itu aja, bahkan berat bdan saya pun gak naik selama empat bulan. Berhenti diangka 57kg selama 4 bulan. Sampai bidannya tanya, “kenapa sih, emangnya masih mual, gak nafsu makan?”. Saya cuma nyengir aja.
Hamnah diperkirakan lahir tanggal 28 september 2018. Namun, ternyata saya belum mulas juga. Tanda-tanda kontraksi aja gak ada sama sekali. Flek aja gak keluar. Bingung gak? Saya cerita ke ibu-ibu tentang kehamilan yang kali ini, mereka bilang supaya saya gak stres dan gak usah kepikiran. Bahkan lucunya, temen saya ngomong gini, “udah tenang aja. kalo anak cewek tuh lama tau keluarnya soalnya dia mau dandan dulu (emoticon ngakak).”
Biar gak tambah drama, besokannya saya konsul ke dokter Prita di JIH. Alhamdulillah banet, saya senang kalo ketemu dokter Prita, beliau tuh nenangin, ngasih support, detail jelasin semua gerakan janin. sampai beliau jelasin kalau kondisi bayi masih dalam keadaan normal, baik air ketuban maupun detak jantungnya.
“Saya bisa lahiran normal kan dok?”
“yaa kita usahakan untuk normal.”
“trus kira-kira kapan saya bisa lahiran (pertanyaan yang aneh, mungkin dalam hati dokter prita dia pengen nyaut meneketehe)?”
“mungkin nanti malem bisa mules.” jawaban spontan yang beliau keluarkan tapi bikin hati saya gembira ria, yeeaay ntar malem mules!
Malam harinya ternyata saya gak mules juga, ampe besok harinya dan besokannya lagi. Tetep aja gak mules. Sampai akhirnya pada 30 oktober flek itu datang juga. diikuti dengan kontraksi yang gak teratur.
Besokannya, 01 oktober pukul 17.00, kontraksi sudah mulai teratur, mules udah mulai sakit, dan udah ada scene nangis-nangisan. Nah, ini dia yang saya tunggu.
Semua sudah siap, saya siap dan hamnah juga siap untuk keluar. Katanya, bayi itu jenius lho. Dia bisa nangkep sinyal-sinyal dari ibunya. Dia tau kapan harus keluar. dan yang harus saya lakukan ialah percaya sama hamnah. mungkin dia nunggu saat ibunya sudah siap dalam semuanya. Dan saat bayi lahir, ibunya dalam kondisi bahagia dan no drama.
Selamat datang ya Hamnah
Semoga Allah menjadikan kamu anak solihah
Semoga kamu bisa menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang sekitar kamu ya
:)
semangat ya untuk semuanya. yang lagi banyak drama atau yang lagi adem ayem, nikmatin aja ya semuanya hahaha. ambil hikmahnya aja, kali aja biar bisa jadi manusia yang lebih sabar. semoga drama yang lagi kita hadapi saat ini bisa menjadikan diri kita manusia yang lebih baik, ya kan.
..........
Hamnah binti Fajar Muhammad
01.10.2018, 18.07
3,3kg - 47cm

Syukur

Beberapa hari lalu saya kedatengan tamu di rumah, malem-malem. sebut aja ya namanya Ibu Fulanah ini seorang perempuan, seorang ibu. Dia juga seorang istri, ehm tapi sekarang gak tau lagi tentang kejelasan status pernikahannya. Dia punya anak, anaknya tinggal sama bapaknya.
Ibu Fulanah ini punya seorang ibu, yang baru dua tahun lalu ditemukan. Lha, emang sebelumnya ke mana ibunya itu? wallahu'alam, saya juga gak tau. Ibu Fulanah ini bercerita panjang lebar tentang kehidupannya, hidupnya yang susah. Di tengah-tengah ceritanya, dia terisak, "apa saya harus tinggal di kolong jembatan aja, um? ke mana lagi saya harus berteduh bersama emak saya yang sakit?"
Saya cuma diam, bingung, respon apa yang harus saya berikan. Bukan saya bermaksud gak berempati, cuma, sepanjang dia bercerita saya ngomong dalam hati, "kok bisa-bisanya ya saya gak bersyukur banget? kehidupan apa lagi yang loe pengen? tuh liat di depan mata loe ada seorang ibu yang nangis-nangis karena gak tau lagi ke mana dia harus berteduh!"
Berasa ditampar bolak-balik ya!
_______________________________________________________________________________
Ibu fulananh ini punya seorang ibu, qodarullah kondisinya gak baik. Ibunya menderita sakit mental. Skizofrenia, waham, halusinasi, atau apalah itu. Iya, sakit kayak gitu, Ibu fulanah ini seorang diri mengurus ibunya. Dia bingung hendak ke mana. Mau bawa ibunya ke panti rehabilitasi, tapi apa daya surat-surat kelengkapan tidak mencukupi. Kartu keluarga pun tak ada, KTP hanya punya fotokopian, dan sayangnya di panti rehabilitasi hanya menerima pasien warga DKI saja sedangkan ibu fulanah ini warga daerah Bogor.
Uang? jangan tanya masalah uang lah. Kalau dia kaya raya kan gak mungkin juga dia malem-malem wara-wiri ke sana ke mari buat cari bantuan. Bantuan apapun. Walau hanya sekedar pelukan hangat yang menguatkan.
Dia bercerita, pernah satu kali ia hanya punya uang sepuluh ribu rupiah saja untuk makan selama tiga hari. Uang sepuluh ribu itu diberikan hanya untuk makan ibunya saja, dia sudah tak peduli lagi dengan perutnya. Yang penying buat emak, begitu katanya.
Bantuan yang paling ia butuhkan saat ini ialah untuk memasukkan ibunya ke panti rehabilitasi atau rumah sakit. Selain ibunya bisa mendapat perawatan medis, juga agar ibu fulanah bisa mencari kerja untuk hidupnya sehari-hari.
______________________________________________________________________________
Gak lama dia bercerita mengeluarkan isi hatinya. Sedih.
Iya, saya juga sedih. Sedih melihat diri saya yang seringkali gak bisa bersyukur, merasa pengen ini itu, gak qona'ah, dan gak pernah merasa cukup.
Saya, harusnya lebih banyak-banyak bersyukur bukan, Saya masih punya kedua orangtua yang alhamdulillah sampai saat ini masih sehat, masih bisa saya lihat wajahnya, masih bisa saya kirimi whatsapp, masih bisa saya dengar suaranya.
Saya, harusnya lebih pandai bersyukur kan. Punya atap untuk berteduh, punya lauk untuk dimakan, punya kendaraan untuk dipakai.

Lalu, kenapa masih sulit untuk bersyukur?

 gambar : http://ep.upy.ac.id


Minggu, 09 Desember 2018

ada kalanya

Ada kalanya, anak-anak itu nyebelin banget
tiba-tiba nangis tanpa sebab
bangunin tidur tengah malem cuma minta temenin pipis

ada kalanya mereka itu gak bisa dikasih tau
parahnya lagi udah bisa ngejawab saat kita lagi serius "ceramah"

ada kalanya, anak-anak itu ngeselin banget
abangnya yang gak mau ngalah
adeknya yang udah nangis jejeritan

ada kalanya, mereka minta makan tapi harus disuapin
padalah ibunya lagi riweuh ngurusin cucian yang belom kering

ada kalanya, mereka minta ditemenin tidur
padahal cuciann piring masih numpuk
padahal perut ibu udah keroncongan

ada kalanya, mereka berantem sampe pukul-pukulan
kadang juga pake adegan tendangan sama jambakan
ibunya cuma bingung antara jadi wasit atau tinggal tidur

lucu ya,

kini masanya mereka teriakann di dalem rumah
tapi nanti ada waktunya rumah terasa sangat sepi

kini, mereka masih minta disuapin makan
tapi nanti mungkin mereka malas makan di rumah

kini, mereka selalu minta ditemanin tidur
tapi nanti, pintu kamar mereka selalu tertutup rapat

kini, mereka lagi seneng-senengnya glendotin ibunya
ngekorin kemana ibunya pergi
tapi nanti, mereka mungkin akan sulit untuk dihubungi

kini, mereka lagi cerewet-cerewetnya nanya ini itu
tanya kenapa begini kenapa begitu
tapi nanti, mungkin akan sulit bagi ibu untuk ngobrol berdua

lucu ya,

semua hanya masalah waktu



Rabu, 11 Oktober 2017

Sindrom Anak Kedua

Dulu, waktu masih kuliah, di kelas kita kedatangan seorang dosen tamu. Mata kuliah yang diajarkan dialah psikologi mikro (kalau gak salah). Saat itu, dosen tamu tersebut menanyakan pada tiap mahasiswa dan mahasiswi tentang masalah apa yang sedang kami alami saat itu. Masing-masing dari kita menyampaikan masalah yang kita hadapi di depan teman lainnya dan para dosen. Malu? Ya jelas lah, tapi kapan lagi coba curhat didengerin sama dosen :p.
Suasana kelas tiba-tiba berubah jadi hening dan melow. Suara tangis dari beberapa teman yang curhat membuat saya berpikir bahwa dibalik sikap riangnya ternyata mereka juga menyimpan masalah yang berat. Mulai dari masalah sama keluarga, sama temen, masalah di kampus, percintaan, atau masalah apa saja boleh dicuhatin. Beliau siap jadi pendengar yang baik.

Tibalah saya yang harus menceritakan masalah saya. Hm, sebenernya sih saat itu saya rasa hidup saya lagi adem-ayem. Walau memang sejak dulu ada masalah yang mengusik saya. saya ceritakan bahwa saya sulit akur dengan keluarga saya, baikitu kakak dan adik saya ataupun kedua orangtua saya. Sejak kecil saya menghadapi sibling rivalry dengan mereka. Saya cukup menyadari kondisi saya sebagai anak tengah kadang membuat saya jadi serba salah. Berantem sama kakak, jangan tanya deh. Kita berantem udah kayak makan, sehari bisa tiga kali atau lebih. Sama adik saya juga begitu. Hal itu yang membuat kondisi persaudaarn kita jadi gak sehat. Pun sampai saya kuliah kita masih suka berantem, yang dipicu oleh masalah yang lebih kompleks.
Mendengar curhatan saya, dosen tersebut menjelaskan tentang second/middle child syndrome. Itulah pertama kali saya tau tentang konsep tersebut. Ada apa sih dengan anak kedua? Kenapa sih mereka kayak anak yang suka cari masalah? Suka bermasalah dengan orang lain dan cenderung pemberontak? Walaupun ada sebagian dari mereka yang lebih introvert.
Bertahun-tahun saya menjadi anak kedua, saya diapit oleh kakak dan adik saya. Saya merasa kalau sifat saya berbeda jauh dengan kakak dan adik saya. Saya cenderung pendiam, pemalu dan mengalah. Sedangkan kakak dan adik saya cenderung bersikap egois.
Sindrom anak tengah ini disebabkan karena kurangnya perhatian dari orangtua. Orangtua memberikan tanggung jawab kepada kakak sebagai anak tertua dan memberikan kasih sayang keda adik sebagai anak yang paling kecil. Lalu, anak kedua dapat apa? Ya gak dapet apa-apa kan. Mostly, nak-anak yang kurang perhatian akan mencari cara apapun untuk mendapatkan kembali perhatian dari orangtuanya. Cara yang mereka lakukan berbeda-beda, kebanyakan sih mereka suka mencari masalah untuk mendapatkan perhatian. Nah tapi ini yang berbeda dri saya. Saya menjadi orang yang terlalu sensitif. Merasa bahwa semua orang gak ada yang perhatian dan sayang sama saya sehingga saya lebih suka menyediri dan diam. Mengasihani hidup, itu sih yang saya lakukan. Jelas saja, sikap saya itu sangat tidak baik bagi diri saya sendiri.

Sekarang, saya mencoba memahami kondisi Ali sebagai anak kedua. Secara umum, banyak orang-orang yang berkomentar bahwa karakeristik Ali jauh berbeda dengan Umar. Saya yakin, setiap anak itu unik dan membawa sifat uniknya pada diri mereka sendiri. Ali adalah anak yang lebih mudah bergaul dengan orang lain, tetapi di sisi lain ia lebih menyukai bermain secara solitaire atau sendiri. Gak ada teman main? Gak masalah untuk Ali, dia cukup menikmati waktu-waktu bermain sendirinya. Terkait dengan sindrom anak kedua, saya merasakan bahwa Ali memiliki karakteristik dalam sindrom tersebut.

Ali itu anak yang supel tetapi ia mudah tersulut emosi, sumbu pendek. Ada sesuatu hal yang mengganggu dia pasti Ali akan menunjukkan sikap tidak senangnya saat itu juga. Berbagai ekspresi dan perilku Ali tunjukkan untuk mengungkapkan perasaan marahnya. Marah, teriak, membanting mainan, ngedumel, dan diam adalah cara yang ali gunakann untuk mengungkapkan emosi dan mencari perhatian saya. Kalau mood saya lagi bagus, saya bisa saja santai menghadapi sikap ali tersebut. Tapi sering kali mood saya ikut berantakan dan terbawa emosi menuruti sikap ali tersebut. Akhirnya saya dan ali jadi maah-marahan. dan, butuh waktu yang lama untuk membujuk ali bersikap baik kembali.

Seringkali saat Ali marah dia selalu mengatakan bahwa saya gak sayang sama dia.Bahwa saya jahat. Gak usah diambil hati kan, dia bilang begitu hanya untuk mengungkapkan perasaannya saat iyu. Bila perasaannya sudah membaik, ali berubah menjadi anak yang manis dan mengatakan bahwa dia sayang sama saya. Lucu kan. Namun masalahnya, saya sering kali gak sabaran menghadapi sikap Ali.

Pada kondisi seperti ini, syaa seharusnya mulai memahami kondisi masing-masing anak. Bukan cuma Ali yang mungkin mengalami sindrim anak tengah, tapi Umar dan Isa pun mungkin memiliki masalahnya sendiri. Kadang saya membandingkan kehidupan kecil saya dengan mereka. Saya ingin anak-anak bisa mendapatkan perhatian yang sama dari kedua orangtuanya. Juga, masih banyak perilaku diri saya yang harus saya benahi. Managemen emosi menjadi PR besar dalamm diri saya. Saya kesulitan untuk mengelola perasaan saya yang akhirnya membuat hari-hari saya seolah berantakan gak karuan gegara masalah sepele. 


Rabu, 27 Januari 2016

Tamasya ke Taman Topi

Selasa kemaren, secara dadakan, kita pergi jalan-jalan ke taman topi. Awalnya sih, pergi kesana buat ngajak umar dan ali jalan-jalan naik kereta api. Namanya bocah yak, demen banget kalo jalan-jalan naik kereta, emak bapaknya juga seneng sih, murah soalnya hahaha. 
Selasa pagi saya googling mainan apa aja yang ada di taman topi. Dulu waktu kuliah pernah mampir bentar di taman topi, beli roti unyil doang dan setau saya gak ada permainan anak-anak disana. Ternyata oh ternyata, ada wahana permainan anak lho. Seru juga. Hasil googlingan, kalau di taman topi itu ada bom-bom car, taman air, monorail, kuda-kudaan, dan banyak lagi deh wahana anak lainnya.
 
                                                                  (sumber : google)
Dua bocah yang sedari pagi udah diinfoin bahwa kita mau ke taman topi, udah kegirangan banget. 
Sehabis bapak Fajar pulang sekolah, makan bentar trus kita langsung cus ke ITC depok. Markir mobil disana terus kita jalan kaki ke stasiun depok baru. Sebenernya sih ada parkiran mobil di stasiun, cuma bapake kemaren belum arah parkiran mobilnya.
 Harga tiket depok-bogor dua rebu rupiah saja plus asuransi kartunya, total jadi dua belas rebu. Anak usia dibawah tiga tahun free charge. Perjalanan depok-bogor seru juga. Enaknya naik kereta itu bisa liat-liat pemandangan sekitar. Yaah, kalo kemaren sih pemandangannya rumah-rumah penduduk aja ama kebon dah. Saking serunya, dua bocah itu nggak mau tidur, padahal kita berangkat dijam tidur siangnya mereka. Yaa maklum aja deh, lagi bahagia.
Perjalanan depok-bogor memakan waktu kurleb tiga puluh menit. Sesampainya di stasiun bogor, kita langsung menuju arah taman topi yang berada di sebelah kiri stasiun. Clingak-clinguk disekitaran taman topi, kok gak lihat ada wahana anaknya. Nah, ternyata taman topi agak ngumpet ke arah belakang. Tapi jangan khawatir, ada petunjuk arahnya kok, biar gak nyasar :D.
Tiket masuk taman topi tujuh rebu rupiah per orang. Anak usia dibawah tiga tahun gratis tis. Daan, seru juga ternyata, mainannya lumayan variatif kok. Anak-anak bocah udah pasti seneng deh. Tiket mainan setiap wahana dibandrol lima rebu rupiah saja.

 
Wahana pertama yang umar naikin adalah gajah terbang. Walaupun namanya gajah terbang, gak semuanya gajah kok ada angry bird terbang juga :p. Bapak, umar dan ali naik robot terbang. Udah ketauan kaan siapa yang paling bahagia naik wahana ini?? Yup, bapak fajar yang paling seneng kayaknya. Abisnya setiap foto menunjukkan senyum sumringahnya doi waktu naik robot ini. Masa kecil terlalu indah sampai ingin diulang lagi hehehe.
 
Permainan selanjutnya mobil antik. Mobil antik ini bakal membawa penumpang muterin area permainan taman topi. Jaraknya sih ga jauh ya, cuma seneng aja muter-muter sambil foto-foto. Harga tiketnya juga sama, lima rebu per orang. Lanjut abang dan ali naik kereta api yang ada terowongan kecilnya. Tiketnya juga lima rebu dan lumayan lama juga puteran keretanya. Asli, anak-anak jadi seneng banget. Wahana terakhir yang kita mainin yaitu gajah terbang (lagi) dan helikopter. Tapi sepertinya emang seru deh gajah terbang itu, soalnya wahana ini bisa terbang, maksudnya bisa naik ke atas gitu. Jadi seperti memacu adrenalin lah buat anak-anak, dan harus didampingi oleh orang dewasa. 
 
Anak-anak dan bapake main, ibu dan isa makan es duren aja. Murah meriah, tiga rebu aja, bisa dimakan berame-rame. Sudah puas (belom juga sih, karena udah sore aja jadi mesti pulang), kita duduk-duduk dulu laah di resto sekitaran taman topi. Harga makanan dan minuman juga relatif masuk diakal hehehe. Kemaren kita makan kwetiaw, sida susu dan strawberi sarang walet. segeeerrr... total makan dan minum tiga puluh lima ribu.
Pulang naik kereta lagi arah Jakarta yang lengang. dari bogor-depok, alhamdulillah bapak Fajar bisa duduk di dalem kereta yang adem dan ada tipinya hahahaa. Alhamdulillaah ya, sudah banyak kemajuan. 
Sore kemaren memang menyenangkan sekali. refresing tenga bulan. Gak usah jauh-jauh dan mueah meriah aja, yang penting kita semua happy. Anak senang, perut kenyang alhamdulillah. Boleh lah, jadi agenda dua minggu sekali, yaa kan. Kumpul-kumpul bersama orang yang kita sayangi itu memang sebuah rezeki. Bisa ketawa-ketawa, cerita-cerita. Semoga gak cuma di dunia aja ya kita bisa kumpul-kumpul bersama orang yang kita sayang, insya Allah berkumpul juga di surga ya #senyum.


Depok, 27 Januari 2016

school of me

bismillah... alhamdulillah, udah hampir dua minggu ini bapaknya umar punya waktu yang lebih banyak di rumah. setelah melalui pemikiran ya...