Ramadhan, hari ke 21.
Masjid Baitussalam, Pasar Minggu.
22.38 wib.
.
.
Pena telah diangkat, tinta telah mengering.
Sungguh, tiada daun yang jatuh melainkan semua telah Engkau takdirkan. Semua yang bernyawa pasti akan mati. Pasti. Tidak ada yang bisa mengelak dari kematian. Jika waktunya telah tiba, tiada yang bisa memajukan atau mengundurkannya.
.
.
Ayah, hari ini hari kedua setelah ayah pergi. Pergi untuk selama-lamanya. Dua hari yg lalu, tepat di hari ke-19 Ramadhan. Di waktu subuh. Tidak akan pernah rany lupa, yah.
.
.
Ayah, sekarang sudah tidak sakit lagi ya? Sekarang sudah tidak gatal dan sesak lagi ya dadanya? Tidak letih lagi ya badannya?
Ayah, rany berdoa semoga semua rasa sakit, perih, letih, sesak, cemas, dan gundah yang ayah rasakan bisa menghapus semua dosa-dosa ayah. Semoga kesabaran dan kekuatan ayah dalam menghadapi rasa sakit selama ini berhadiahkan pahala dari Allah arrahman arrahiim.
.
.
Ayah, maaf ya jika selama 10 hari rany mengurus ayah, banyak kesalahan dan ketidaksabaran rany terhadap ayah. Rany gak sangka kalau ayah akan pergi secepat ini. Rany pikir, rany masih bisa berlebaran dengan ayah tahun ini. Rany kira, rany masih bisa mendengar suara ayah dan melihat wajah ayah.
Maaf ya yah, rany gak tau betapa sakitnya semua badan ayah. Betapa gatalnya sekujur kulit ayah. Betapa ngilu dan nyerinya semua tulang dan sendi-sendi di tubuh ayah. Rany gak tau, jika batuk yang ayah rasakan sangat menyiksa, seperti terbakar rasanya.
Ayah, rany takut sekali saat mendengar suara mesin itu di ruang IGD. Suara mesinnya menakutkan dan suasana di sana sangat menyeramkan, yah.
Jarum-jarum suntik itu ditusukkan di tangan kanan dan kiri ayah. Kabel-kabel yang menempel di dada ayah, selang yang terhubung pada mulut dan hidung ayah.
Ya Allah, kasihan sekali ayahku.
Ayah yang dulu gagah, kuat, tak pernah mengeluh sakit, walaupun aku tau betapa banyak luka yang kau tutupi.
"Rhany gak usah takut, ayah gak akan pergi kemana-mana. Ayah akan selalu ada untuk anak-anak ayah". Begitu ucapmu belasan tahun lalu saat mencoba menenangkan diriku. Rany sungguh percaya kata-kata itu, yah. Ayah memang gak pernah pergi kemana-mana.
Sampai, dua hari yang lalu ketika ayah benar-benar pergi. Yaa, pergi dalam arti sesungguhnya. Kembali pada Sang Pencipta.
Rany minta maaf ayah.
.
.
Dua hari berlalu, ternyata seperti ini rasanya tanpa ayah. Handphone ayah masih aktif. Tadi pagi nomor hp ayah masih video call ke hp rany. Tapi rany tau, itu bukan ayah.
Rany kangen saat-saat yah telpon rany, walau sekedar bertanya keadaan rany dan anak-anak rany. Tiap pagi, siang, dan sore ayah selalu video call. Sekarang, rany paham kenapa ayah sering sekali video call. Itu karena ayah merasa kesepian kan, yah? Maaf ya yah, sungguh anakmu ini tidak peka sama sekali.
Sekarang, tenryata seperti ini rasanya tanpa ayah.
Rany sudah gak nangis lagi yah. Tapi, ada rasa sesak entah kenapa. Rany belum sanggup untuk putar ulang voice note yang ayah kirim beberapa bulan lalu. Saat ayah masih sehat, masih segar, masih semangat. Rany belum sanggup melihat foto-foto ayah beberapa hari ini, saat ayah terbaring sakit.
Ayah, ternyata seperti ini rasanya tanpa ayah. Rumah pamulang terasa sepi, yah. Barang-barang pribadi ayah, obat-obatan ayah, alat makan ayah, semuanya masih ada di meja kerja ayah di lantai atas. Pun, barang-barang ayah yang ada di rumah rany juga masih tertata ditempatnya. Baju, pampers, obat-obatan, garukan, tas, bahkan sendal ayah masih ada semua.
Ayah, rany sudah gak nangis lagi. Tapi entah kenapa sekarang mata ini terasa hangat yah. Seperti ada air yang ingin mengalir. Dada ini terasa sesak, tapi rasanya tidak seperti terbakar. Hanya sesak karena ada yang tertahan.
.
.
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku, dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari Kiamat). [Ibrâhîm/14:41].
Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu.
.
.
Ternyata, begini rasanya tanpa ayah.