Kamis, 18 Desember 2014

Home, its a feeling

Bismillah...

Heu...mau mulai nulis lagi, kali ini agak melow kayaknya.
Gagal move on? Masa iya sih?
I'm counting down the days. Hari-hari belakangan ini dipenuhi kegiatan berbau packing. Yup, time to move. Pindahan bok! :(
Sedih gak sih kalo orang mau pindahan rumah? Lebay ya. Tapi emang gitu sih saya, melankolis.

Sampai usia saya saat ini, saya sudah mengalami 3 kali pindahan rumah. Yang pertama saat pindah dari tempat kelahiran saya di Ciledug ke rumah Pamulang yang sampai sekarang masih di tempatin oleh orangtua dan saudara saya.  Saya lahir di Ciledug dan tumbuh disana sampai usia saya 3 tahun. Yaa,,gak banyak sih kenangan yang nyangkut di otak saya. Beberapa kenangan yang masih bisa saya ingat memang kenangan-kenangan yang cukup berkenan buat saya. Misal, saya masih ingat kegiatan yang saya lakukan di Ciledug, yaitu saya ikut mama anter kakak saya ke TK. Saya main perosotan disana, atau kenangan saat saya jalan-jalan ke rumah tetangga sambil bawa dot susu dan bantal kesayangan. Selebihnya saya gak bisa mengingat kenangan apa lagi yang saya dapat disana. Kecuali saat saya lihat album foto dekil dirumah. Walaupun sudah berpuluh tahun pindah ke Pamulang, tapi Masya Allah, orangtua saya masih sesekali berkunjung kesana untuk silaturahim dengan tetangga-tetangga disana. Dan saat berkunjung, mereka gak bosan-bosan menceritakan kenangan-kenangan yang sama setiap kali bertemu.

Pindahan yang kedua yaitu saat saya akhirnya harus ikut kemana suami membawa saya, ciee. Pindahan dari Pamulang ke rumah Palapa, Pasar Minggu. Saat itu saya sering nangis dan melow, apalagi kalau bukan karena homesick. Tiap-tiap mama atau ayah saya telepon, abisannya saya suka sedih, trus mewek :(. Maklumlah anak rumahan yang gegara itu juga saya memilih untuk gak ngekos di Depok, karena gak mau jauh dari rumah. Jujur aja, rasanya gimana gitu saat akhirnya saya harus keluar dari rumah orangtua saya. Saya tumbuh dan bergaul dengan teman-teman yang asik. Banyak banget kenangan-kenangan yang masih keinget sampai sekarang. Masa kecil dan masa bermain saya ya di Pamulang. Kenalan sama anak-anak komplek, ngaji di masjid, maen bareng, dan berakhir di kegiatan karang taruna pas kita remaja. Masa sekolah saya juga dimulai di Pamulang. Mulai TK sampai kuliah ya di Pamulang.
Dulu, pernah ada isu-isu di rumah bahwa kita akan pindah dari rumah pamulang. Beuh, saya langsung sedih dan masuk kamar dan nulis ditembok kamar "rany gak mau pindah" hahaha noraklah pokoknya. Andai dinding-dinding dirumah tak bisu mungkin mereka akan mual karena ditulisin kata-kata norak macam gitu haha.
Dan sampai pada akhirnya saya menikah dan harus keluar ikut suami. Yaa..alhamdulillah walaupun sekarang gak tinggal di Pamulang lagi tapi saya masih menyempatkan waktu berkunjung atau menginap disana dan ketemu dengan teman-teman saya, walaupun sebentar yang pentingkan quality time nya haha.

Dan..yang saat ini harus saya hadapi lagi, pindahan yang ketiga. Pindah dari rumah Palapa ke Depok. Insya Allah gak lama lagi barang-barang packingan sudah bisa diangkut ke Depok. Saya rasa kalau perasaan ini juga dialami oleh setiap orang yang mau pindahan, ya kan. Menurut saya, saat kita pindah dari sebuah tempat ke tempat lain, seperti ada kenangan yang gak bisa ikut dibawa pindah. Mengamati setiap kamar yang selama empat tahun menjadi home buat saya dan harus saya tinggalkan, its weird, sedih. Disini rumah saya setelah saya menikah, lalu melahirkan dua bocah. Saat saya pertama kali menginjakkan kaki di jalan Palapa raya, saya amati setiap rumahdan berkata dalam hati, "yup..this is my future home.." dimana saya akan mengukir kenangan bersama keluarga baru saya. Disini kenangan-kenangan itu terukir. Juga, kenangan dengan Mama Tita - semoga Allah menyayanginya-. Tak jarang waktu siang saya habiskan bersamanya. Kita nonton TV sama-sama dan mengomentari berita yang gak penting, cuma buat ketawaan aja. Setiap sudut di ruang ini juga masih mengingatkan saya dengannya.
Dan, cuma di rumah Pamulang dan rumah Palapa saya baru merasakan bahwa banjir itu gak melulu datang dari luar rumah, tapi banjir juga bisa datang dari atas (baca : bocor). hahaa...dirumah Pamulang juga sama seperti itu, tetiba saat hujan deras air turun dari lantai atas dan byaaar aja gitu, dan saya cuma bisa bengong liat air segitu banyak, hahaha..

Yup..semoga ini gak berujung menjadi gagal move on ya. Kalau kata suami saya, "yaa..paling nangis-nangisan seminggu" hahhaa. Dan hari ini marmer sudah diangkut ke Depok, memang tinggal beberapa saat lagi. Gak terasa ya, its been 4 years, dan bersiap-siap menjadi warga Depok.
See you..

Palapa, 181214
http://www.smoothjazznetwork.com



Minggu, 22 September 2013

Menyapih Umar

"Ibuuu....ade nenen..." ucap Umar..
"abang Umar ?" tanya saya
"U..u..(baca :susu)" jawab Umar...

Begitulah penggalan kalimat antara saya dan Umar. Alhamdulillah sejak Agustus 2013 lalu, tepatnya sejak usia Umar 2 tahun, ia sudah sukses disapih :)

Sejak pertama kali menyusui memang saya berniat untuk bisa menyusui anak-anak saya hingga usia 2 tahun. Hal itu, saya terapkan pada Umar kala itu. Perjalanan menyusui selama dua tahun tentu bukan perkara yang mudah bagi saya. Ada kalanya Asi yang keluar sedikit, padahal usia Umar saat itu belum genap satu tahun, ditambah kndisi saya yang saat itu sedang hamil yang kedua. Huff...kadang banyak, kadang sedikit, kadang melimpah, kadang tak keluar sama sekali. Alhamdulillah 'ala kulli haal...

Kondisi yang parah saat menyusui yaitu ketika usia Umar 1,5 tahun dimana Asi saya tidak keluar setetes pun. Saya khawatir sekali, bingung. Akhritnya saya dan suami memutuskan untuk memberikan Umar susu tambahan, UHT. Sampai akhirnya saya memasuki usia kehamilan tujuh bulan, asi saya berubah warna menjadi bening, seperti kolostrum. Lalu saya konsulasikan ke dokter kandungan, menurutnya perubahan warna dan rasa asi itu merupakan hal yang wajar. Karena secara otomatis Asi akan memproses susu baru untuk bayi yang dikandung. Subhanallah.. jadi Umar dapat kolostrum dua kali :)

Saran dokter kandungan, kalau saat menyusui lalu terasa seperti kontraksi, harus berhenti sebentar dan me-rilex-an badan. Saat usia kandungan tujuh bulan, saya sering mengalami hal itu, saat sedang menyusui Umar tiba-tiba perut terasa kencang. Masa-masa itu juga masa terberat buat saya. Entah kenapa saat saya menyusui Umar, saya sering merasa melow dan sedih. Sering kali saya juga terbawa perasaan marah sama Umar, karena intensitas menyusu dan sering dan lamaaa. Saya jadi BT. Hmm..mungkin karena perubahan hormonal, psikologis, ditambah perut yang semakin membesar memvatasi ruang gerak saya. Tidur miring salah, terlentang salah, pokoknya serba salah banget.

Saya pernah ngobrol dengan beberapa ibu-ibu yang sudah sedang menyapih anaknya. Diantara mereka ada yang bercerita bahwa saat ia menyapih anakanya, ia menggunakan odol/pasta gigi yang ddioleskan di areolanya. Tujuannya, agar anaknya tidak mau menyusu karena rasa odol yang pedas. dan cara-cara lain dengan menggunakan bumbu-bumbu atau aroma yang pahit untuk menyapih anak. Hm..yaa sah-sah aja sih. Tapi, kalau saya pribadi, saya lebih memilih cara diskusi dengan anak tentang menyapih. Lagipula, menurut saya lho, apa cara-cara seperti itu malah menjadikan anak takut akan rasa pahit, pedas, atau rasa-rasa yang tidak enak lainnya ya? Padalah hidup ini, tidak melulu dengan rasa manis.....hehehe.. well, just my opinion :p

Lanjuuut....

Lalu saya membuat rencana baru buat Umar. Saya mulai membatasi jumlah dan waktu menyusunya. Dalam satu hari umar hanya boleh menyusu dua kali, yaitu waktu tidur siang dan malam, dengan waktu sepuluh menit. Alhamdulillah rencana itu lumayan berhasil sambil terus berbicara dengan Umar bahwa sebentar lagi ia akan mempunyai adik bayi. Awalnya umar selalu menangis dan menunjukkan ekspresi tidak suka saat saya mengatakan bahwa ia akan mempunyai adik bayi dan akan berhenti nenen. Sampai hari itu tibaa....

Umar menagis kencang sekali, sekencang-kencangnya di rumah sakit saat ia melihat saya menyusui adik Ali. Takjub. Mungkin yang ada di benak Umar ialah miliknya satu0satunya yang hampir dua tahun menjadi kepunyaannya seorang telah diambil adik bayi dan dia harus BERBAGI. Tidaaaaaak........

Siasatnya ialah TANDEM ASI. Satu kata buat tandem asi, Melelahkan....hufff...tapi mau bagaimana lagi? Saat itu cuma tandem yang jadi andalan saya saat Umar liat adiknya sedang menyusu. Mulai saat itu, saya kembali membatasi jumlah dan waktu menyusu Umar. Dalam satu hari, ia hanya boleh menyusu SATU KALI, yaitu waktu tidur malam dengan waktu 5 menit. I use stopwatch, Really..hehehe
Sambil terus menerus saya katakan pada Umar, bahwa bulan Agustus nanti usia Umar sudah dua tahun, dan itu tandanya Umar harus berhenti menyusu. Setiap malam saya lakukan itu. Senjata saya ialah susu UHT. Kalau Umar mau nyusu, saya tawarkan susu UHT dan dia mau, alhamdulillah.

Dan..tiba saatnya ketika usia Umar dua tahun, saat dia sudah siap tidak lagi menyusu dan minum susu UHT.


Baarakallahu fiik ya bunayy :)


Rabu, 18 September 2013

Dan..kau tak kembali

Dan..kau tidak kembali
Sampai saat ini
Sampai hari ini
Sampai aku menulis surat ini...untukmu...

Ya..sejak hari itu
Sejak malam itu
Terakhir kalinya aku melihatmu
Kini...kau belum juga kembali

Malam itu, malam kepergianmu
Saat kami baru saja tiba 
dari suatu tempat yang tak jauh
Kau menunggu di dalam rumah
Bersama teman kesayanganmu
Teman yang mengerti bahasamu

Kami datang
Kau duduk..seperti biasa di kursi itu
Kau berharap aku menuangkan sedikit makanan untukmu
Tapi aku terlalu lelah
Seharian berkutat dengan aroma rumah sakit

Lalu, kau pergi..
Seperti hari-hari biasanya
Kala malam kau keluar dan kembali di pagi hari..
Untuk makan

Tapi..tidak dengan pagi itu
Kau belum juga datang..
Ku tunggu kau hingga waktu siang...sore..lalu malam

Ku tunggu kau 
1 hari...
2 hari...
1 minggu...
sampai 4 bulan hingga kini..
Tak jua ku lihat ekor pendekmu
Kau tidak kembali

Aku sudah mencari
Tapi, kau tak ada
Aku tak tau harus mencari kemana lagi
Aku tak tau apa yang terjadi padamu...pada malam kepergiannmu
Hingga kau tak kembali sampai saat ini...

Buntel...
Mungkinkah kau masih ada.....

Selasa, 17 September 2013

'Ali dan Pusar

Assalamualaykum...

hehehe...(apaa coba pake ketawa)..

hm...pernah ngalamin pusar bayi yang baru puput trus bau ga? saya pernah.. baru kali ini ngalamin kalo puput pusar bayi bisa bau. soalnya pengalaman waktu umar puput pusar dulu, gak bau.
awalnya, ali, anak kedua saya puput pusar sekitar 10 hari setelah lahir. lumayan cepet lah ya. pas puput pusarnya itu juga gak bau, tapi emang agak lembab dan sedikit berdarah. iyaa..berdarah. yaah, gak banyak tapi setiap saya lap dengan kain kasa pati ada darah yang nempel di kain kasa.

penasaran, akhirnya saya bawa ali ke dokter anak di rumah sakit tempat lahirannya. saat di cek oleh dokter, beliau bilang memang bau dan khawatir infeksi. lho...kok infeksi? padahal gak diapa-apain kok tuh puser, kenapa bisa infeksi? gak berapa lama, masih diruangan dokter anak, lalu sang dokter memberi resep antibiotik untuk diminumkan ke ali. kaget dong saya, masa bayi 10 hari mesti minum antibiotik. lalu, suami saya bilang, apa gak ada alternatif lain selain antibiotik. soalnya saya kan niat asi exlusif, tanpa tambahan apapun. kata dokter anak, ada sih salep buat dioles ke puser, tapi dokter juga gak yakin kalau salep itu ampuh untuk mengobati puser ali yang bau. dalam hati saya, apa separah itu ya pusernya ali sampe dikasih antibiotik untuk diminumkan segala?

setelah keluar ruangan dokter dengan membawa secarik kertas resep bertuliskan "AMOX (amoxilin), suami saya langsung googling cari-cari info tentang puser bayi yang bau.kesimpulan dari hasil googling, bahwa banyak orang tua yang juga mengalami kasus seperti saya. puser anak yang baru puput bau dan mengeluarkan bercak darah. lalu, penanganan para orang tua tersebut juga gak dikasih obat macam-macam, cuma rajin dibersihkan dan ditutup dengan kain kasa steril, juga harus diganti setiap kali bayi pipis. haaaah(nafas lega) alhamdulillaaah... akhirnya kami pulang tanpa menebus obat (sudah 2 kali ke dokter anak, dibekelin resep obat dan GAK DITEBUS) hehee

besokannya, akhrnya kami memutuskan untuk cari second opinion ke dokter di markas sehar. ketemulah kami dengan dr.arum. sungguh, melegakan sekaligus menyenangkan. dr.arum sangat menenangkan kami. bagaimana tidak..saat kami masuk ke ruangannya langsung disambut dengan senyum dan ucapan subhanallah saat melihat ali. kami ceritakan ihwal kedatangan kami. setelah dr.atum "mewawancarai" kami dengan pertanyaan-pertanyaan standar seputar ali, lalu dr.arum mulai memeriksa seluruh badan ali. so detaiiil..... :)
mulai dari perkembangan fisik sampai kemampuan-kemampuan awal bayi dijelaskan oleh dr.arum. daaan..yang paling melegakan tentu masalah puput pusar ali yang bau. dr.arum bilang bahwa bau dari pusar ali masih wajar, dan darah yang menempel juga masih wajar, yang paling penting tidak perlu dikasih antibiotik. pananganannya, harus sering dibersihkan. insya Allah dalam waktu 1 minggu akan hilang bau dan darahnya. bau pusar ali kemungkinan dikarenakan daerah yang lembab di sekitar pusar. saat itu dr.arum juga menyarankan kalau ali tidak harus selalu mandi 2 kali sehari (emang emaknya kerajinan sih..hehe). walaupun jarang dimandiin, bayi akan tetap harus kok, katanya..hehehee....

akhirnya, kali ini perasaan kami benar-benar lega dan tenang..lalu kami pun pulang tanpa obat satupun...hehe..bukannya kami anti obat ya, bukaaan..bener deh.. tapi kami yakin kok, obat akan bekerja dengan baik sesuai porsinya, alias tepat guna dan tepat sasaran...(piissss)

alhamdulillah..seminggu setelahnya pusar ali sudah bersih dari darah dan tidak bau lagi....:)

sekarang usia ali sudah memasuki 6 bulan..prepare for MPASI..yuk ntar sore ke markas sehat lagi...hehee



                                              gambar dari http://redboxmedicalplus.wordpress.com/

Rabu, 22 Mei 2013

Menanti senyum Umar

Alhamdulillah... hari-hari yang menegangkan itu lewat sudahh.. fiuuh..#lapkeringet..
Menegangkan? hm..kurang lebih sih begitu. kenapa? karena sekitar dua minggu lalu tiba-tiba kami di rumah kehilangan senyum abang umar #lebay.
Hari kamis tanggal 9 mei kemaren, sekitar jam 19.00 tiba-tiba aja suhu badan abang jadi panas dan hidung meler. waduh..abang demam. padahal, tadi siang masih asyik-asyik aja maen sama sepupunya, Abib. Badan demam plus hidung meler, saya dan suami langsung menerka-nerka sakitnya abang. hm..bisa jadi demamnya abang ini karena flu, soalnya hidung meler. tapi saat itu abang masih anteng dan gak rewel, tidur juga seperti biasa walaupun beberapa kali bangun minta susu. Saya dan suami tahu, bahwa kalo demam itu adalah gejala atau alarm dari suatu penyakit. So, kita langsung cari tau penyebabya. kemungkinan saat itu ialah virus, karena abang meler.
Keesokan harinya, hari jumat, suhu badan abang belum turun juga malah makin panah yaitu sampai 39.4 dercel. widiiww.. dari jauh aja udah berasa banget panasnya. saat itu abang juga udah mulai rewel dan susah makan, maunya minum aja. akhirnya saya kasih paracetamol buat bikin abang nyaman.
Hari-hari berikutnya juga begitu, panas naik-turun, suhu terendah saat itu 37.7 dercel, abang rewel dan makin gak mau makan. saya udah mulai galau, kok kalau influenza saja sampai berhari-hari gini. akhirnya setelah 72 jam abang masih demam juga, kita bawa deh ke Markas Sehat untuk konsul. ketemulah kita dengan dr.Felix. setelah diobservasi badannya abang, ternyata muncul ruam di punggung dan belakang telinga, juga ada pembengkakan di sekitar leher, semacam kelenjar getah bening gitu kayaknya..hmm...
dr.felix mendiagnosa dengan campak jerman atau Rubella.
setelah di rumah, saya dan suami langsung ngubek-ngubek bacaan tentang penyakit rubella. rubella atau campak jerman itu penyebabnya ialah virus rubella. ciri khas penyakit ini adanya pembesaran kelenjar getah bening di sekitar leher sampai belakang telinga (Arifianto, SpA). gejala dari campak, roseola, dan rubella ini emang hampir sama, yaitu demam dan timbul ruam. tapi, demam untuk rubella ini lebih ringan dibanding dengan campak. karena penyebabnya ialah virus, bang gak diresepi obat sama sekali, cuma paracetamol aja kalo badannya panas dan rewel, sama banyakin minum aja biar gak dehidrasi. masalah makan? abang umar sama sekali gak mau makan selama sakit. cuma makan biskuit beberapa suap aja itu udah alhamdulillaah banget. sampai akhirnya nafsu minum abang berkurang, saya kasih oralit. emang gak doyan pastinya, tapi dipaksa aja biar ada yang masuk. apalagi saat itu abang kena diare juga. saya dan suami khawatir banget kalo abang dehidrasi.
yang tambah bikin kasihan, ruam-ruamnya itu bikin gatel dan abang jadi rewel banget karena abang mesti garuk-garuk badannya. lalu, mata abang tiba-tiba memerah, berair dan bengkak, diikuti dengan mulut kering dan bibir pecah-pecah. alhasil, abang gak mau makan dan minum.
dari dr.felix, kami dikasih surat rujukan untuk tes lab kalau-kalau abang umar masih demam.
setelah seminggu deman dan kondisi abang yang melemas, kami akhirnya tes lab (hemo, trombosit, dll) di RS.Bunda Margonda. pulang dari tes lab, kami langsung ke Markas Sehat lagi untuk konsul dengan dr.Apin.
diagnosa dr.Apin juga sama dengan dr.felix, yakni Rubella. tapi, kalau sampai hari jumat, tanggal 17 mei abang umar masih demam juga, direkomendasiin sama dr.Apin buat tes urin, takut-takut ISK. padahal abang umar udah di khitan gara2 ISK juga.
akhirnya kita nunggu sampai hari jumat, dan abang masih demam, tapi kita memutuskan untuk gak tes urin. yaa..alasan kita sih kan abang umar udah di khitan, masa masih ISK juga #sotoyhehehe...
tapi memang kita lebih milih di rumah aja, males ke RS mulu, kasian sama abang umar yang kayaknya trauma kalo harus masuk ruang lab terus :(. Ade ali kan juga masih 2 bulan, gak tega kalo harus ikut-ikutan keluar masuk RS. banyak virus disana.
Sampaiakhirnya senyum itu perlahan mengembang dari bibir abang umar yang pecah-pecah :) hehe..
abang udah mulai main dengan ali dan bapak. walaupun belum mauk makan, tapi alhamdulillah abang udah aktif lagi dan mlai ngpceh.. setelah sekian lama gak denger suara abang manggil-manggil "bapak..ibu". hihi.. ibarat nungguin bayi yang baru belajar ngomong.
pelajaran yang kami peroleh dari sakitnya abang yaitu :
1 kurangnya pengalaman kami sbg ortu yang ngadepin anak sakit, sering bikin kami PANIK. padahal, saat anak sakit kita harus tenang agar bisa memikirkan cara yg bijak mengatasinya. :)
2. harus bijak dalam menggunakan obat-obatan. setidaknya yg kami tau dari hasil ngubek-ngubek buku kesehatan abak, penyakit yg disebabkan oleh infeksi virus tidak butuh obat-obatan kecuali paracetamol. sayang anak, juga sayang uang yang terbuang jika kita gak bijak dalam memilih obat.
3. sehai itu mahal ya, nak #liatisidompet heheee

                                                            http://www.google.co.id/

Kamis, 11 April 2013

Aku (BUKAN) Anak Durhaka

Miriiiiiisss....

mirriiiss banget nonton berita.. :(

berapa bulan lalu (tapi masih inget beritanya) saya nonton tivi, gak sengaja nonton berita yang isinya kekerasa pada anak, anak balita umur 4 tahun tepatnya #tariknapas. Siapa pelakunya? Tetangga? Teman bermain? Kakek Nenek? bukaaaan... pelakunya orangtuanya sendiri #garuktanah... sedih gak sih?

ceritanya, diberita itu ditampilin video yang kayaknya sih yang nge-rekam itu ibunya, dan yang mukulin bapaknya, korbannya ya anaknya sendiri.
di video itu digambarkan kalo sang pelaku bapaknya itu lagi nendangin dan mukulin sambil nge-bentak-bentak si anak. diomelin lah kenceng-kenceng, sayaang, gak jelas suaranya jadi gak tau dia ngomelin apa. nah, si anak balita 4 tahun itu nangis aja, ya iyyalah.. dipukul, ditendang, diomelin, sama BAPAKnya sendiri, siapa yang gak nangis. si IBUnya itu yang nge-rekam seolah ngedukung kelakuan si bapak dengan ngomong begini, "iya terus pukul aja emang bandel..." dan kalimat-kalimat lain yang saya lupa jelasnya.
Lalu, gak berhenti sampai di situ, si anak dibawa ke tembok dan kaya dipukul ke arah tembok berkali-kali, makin jadi lah tangisan si anak.. Astaghfirullah... kok ada ya? #ya ada lah...

ngeliat video itu, saya sedih, kesel, marah, kenapa tadi pake nonton tivi, jadi ngeliat adegan kaya gitu..eerrggjhhh....

abis dipukulin layaknya bukan anak balita, tuh orang yang ngaku bapaknya, berlutut di depan anaknya sambil nasehatin anaknya. ya, mungkin anak balita itu abis ngelakuin sesuatu yang buat orangtuanya marah besar, sampe kalap gitu. TAPI....ida kan baru BOCAH 4 tahun pulaa gitu, kok nasehatinnya kasar banget yaa.... #bingung saya..

Ya Allah..apa harus begitu ya mendidik anak? dengan kekerasan apakah anak bakalan jera dan kapok? atau malah makin menjadi-jadi?

mungkin, banyak ya disekitar kita kejadian kayak gitu, bukan satu atau dua kejadian, ratusan atau ribuan kejadian kayak gitu yang bisa jadi ada di sekitar kita sendiri.

lalu...saat anak itu tumbuh dewasa, makin besar makin besar. tibalah suatu masa saat anak itu flash back akan masa kecilnya yang sering dipukulin, dimarahin, dikata-katain, dan dia merasa sebel, marah atau bahkan benci sama orangtua nya sendiri. sekali dua kali anak yang sudah dewasa itu tidak mau menuruti keinginan orangtuanya, atau melawan orangtua, bahkan membalas perlakuan orangtua. naudzubillah...
daan...karena perlakuan anak yang tidak sesuai dengan keinginan orangtua, kadang orangtua secara sengaja atau tidak mengucapkan kalimat, "Dasar Anak Durhaka!!!"

padahal...waktu kecilnya tuh anak sering dimarahin, dipukulin, dikata-katain. setelah dewasa, orangtua gak terima dengan sikap anak yang membandel, gak nurut, suka ngelawan, de el el... coba deh kita urut beberapa tahun ke belakang, what have we done to our child?

tentu saja, ini pengalaman yang sangat baik buat saya dan suami yang baru mulai belajar jadi orang tua umar, ali, dan adik-adiknya nanti. masih panjang perjalanannya..hm..mudah-mudahan bisa ya jadi orangtua yang gak kayak di video itu, naudzubillah...

mau jadi orangtua, anak, kakak, adik, atau apapun peran kita, kuncinya sabar dan belajar...


Cuma mau bilang....

Ahlan wa sahlan yaa 'Ali.... :)

21 Maret 2013

Semoga menjadi anak sholeh, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, berbakti sama bapak ibu....

Sayaang 'Ali.... :)

Ayah Pulang

Ramadhan, hari ke 21. Masjid Baitussalam, Pasar Minggu. 22.38 wib. . . Pena telah diangkat, tinta telah mengering. Sungguh, tiada daun yang ...