Jumat, 21 Maret 2025

Ayah Pulang

Ramadhan, hari ke 21.

Masjid Baitussalam, Pasar Minggu.

22.38 wib.

.

.

Pena telah diangkat, tinta telah mengering.

Sungguh, tiada daun yang jatuh melainkan semua telah Engkau takdirkan. Semua yang bernyawa pasti akan mati. Pasti. Tidak ada yang bisa mengelak dari kematian. Jika waktunya telah tiba, tiada yang bisa memajukan atau mengundurkannya.

.

.

Ayah, hari ini hari kedua setelah ayah pergi. Pergi untuk selama-lamanya. Dua hari yg lalu, tepat di hari ke-19 Ramadhan. Di waktu subuh. Tidak akan pernah rany lupa, yah. 

.

.

Ayah, sekarang sudah tidak sakit lagi ya? Sekarang sudah tidak gatal dan sesak lagi ya dadanya? Tidak letih lagi ya badannya? 

Ayah, rany berdoa semoga semua rasa sakit, perih, letih, sesak, cemas, dan gundah yang ayah rasakan bisa menghapus semua dosa-dosa ayah. Semoga kesabaran dan kekuatan ayah dalam menghadapi rasa sakit selama ini berhadiahkan pahala dari Allah arrahman arrahiim. 

.

.

Ayah, maaf ya jika selama 10 hari rany mengurus ayah, banyak kesalahan dan ketidaksabaran rany terhadap ayah. Rany gak sangka kalau ayah akan pergi secepat ini. Rany pikir, rany masih bisa berlebaran dengan ayah tahun ini. Rany kira, rany masih bisa mendengar suara ayah dan melihat wajah ayah. 

Maaf ya yah, rany gak tau betapa sakitnya semua badan ayah. Betapa gatalnya sekujur kulit ayah. Betapa ngilu dan nyerinya semua tulang dan sendi-sendi di tubuh ayah. Rany gak tau, jika batuk yang ayah rasakan sangat menyiksa, seperti terbakar rasanya. 

Ayah, rany takut sekali saat mendengar suara mesin itu di ruang IGD. Suara mesinnya menakutkan dan suasana di sana sangat menyeramkan, yah. 

Jarum-jarum suntik itu ditusukkan di tangan kanan dan kiri ayah. Kabel-kabel yang menempel di dada ayah, selang yang terhubung pada mulut dan hidung ayah. 

Ya Allah, kasihan sekali ayahku.

Ayah yang dulu gagah, kuat, tak pernah mengeluh sakit, walaupun aku tau betapa banyak luka yang kau tutupi.

"Rhany gak usah takut, ayah gak akan pergi kemana-mana. Ayah akan selalu ada untuk anak-anak ayah". Begitu ucapmu belasan tahun lalu saat mencoba menenangkan diriku. Rany sungguh percaya kata-kata itu, yah. Ayah memang gak pernah pergi kemana-mana. 

Sampai, dua hari yang lalu ketika ayah benar-benar pergi. Yaa, pergi dalam arti sesungguhnya. Kembali pada Sang Pencipta.

Rany minta maaf ayah.

.

.

Dua hari berlalu, ternyata seperti ini rasanya tanpa ayah. Handphone ayah masih aktif. Tadi pagi nomor hp ayah masih video call ke hp rany. Tapi rany tau, itu bukan ayah.

Rany kangen saat-saat yah telpon rany, walau sekedar bertanya keadaan rany dan anak-anak rany. Tiap pagi, siang, dan sore ayah selalu video call. Sekarang, rany paham kenapa ayah sering sekali video call. Itu karena ayah merasa kesepian kan, yah? Maaf ya yah, sungguh anakmu ini tidak peka sama sekali. 

Sekarang, tenryata seperti ini rasanya tanpa ayah.

Rany sudah gak nangis lagi yah. Tapi, ada rasa sesak entah kenapa. Rany belum sanggup untuk putar ulang voice note yang ayah kirim beberapa bulan lalu. Saat ayah masih sehat, masih segar, masih semangat. Rany belum sanggup melihat foto-foto ayah beberapa hari ini, saat ayah terbaring sakit. 

Ayah, ternyata seperti ini rasanya tanpa ayah. Rumah pamulang terasa sepi, yah. Barang-barang pribadi ayah, obat-obatan ayah, alat makan ayah, semuanya masih ada di meja kerja ayah di lantai atas. Pun, barang-barang ayah yang ada di rumah rany juga masih tertata ditempatnya. Baju, pampers, obat-obatan, garukan, tas, bahkan sendal ayah masih ada semua. 

Ayah, rany sudah gak nangis lagi. Tapi entah kenapa sekarang mata ini terasa hangat yah. Seperti ada air yang ingin mengalir. Dada ini terasa sesak, tapi rasanya tidak seperti terbakar. Hanya sesak karena ada yang tertahan. 

.

.

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku, dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari Kiamat). [Ibrâhîm/14:41].

Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu. 

.

.

Ternyata, begini rasanya tanpa ayah.




Selasa, 03 Desember 2019

Hamnah, antara Nursing Strike dan Gagal Tumbuh

Tiga bulan lalu, Hamnah tiba-tiba saja menolak untuk nenen. setiap kali saya tawarkan untuk nenen, dia selalu menjerit dan menangis. saya sampe bingung kenapa tiba-tiba kayak gini. Karena terus menerus nangis (rewel karena gak dapet apa yang dia mau), saya tawarkan makanan, dan dilahaplah makanan itu, padahal sorenya dia sudah makan. dia kelaperan!
besokannya, hamnah masih mogok. masih rewel,
masih menjerit jika saya tawarkan nenen. seperti orang yang ketakukan. akhirnya, saya coba browsing sana sini, dan kemungkinan hamnah nursing strike. Kaget dan bingung. WHY? apa yang salah dengan saya? apa bau badan saya berubah? saya tuh jaraang banget gonta ganti sabun atau parfum, itu-itu ajaa dari dulu. atau karena kita sama-sama lagi lelah krn habis pulang safar? atau memang asi saya yang berubah rasa atau bahkan asi saya kurang selama ini? atau dia trauma? segala macam kemungkinan saya coba telaah. dan mungkin penyebab yang paling logis, dia trauma dan asi saya gak cukup.
Trauma. jadi pernah saat dia nenen, dia gigit nenen saya dan saya refleks teriak dan menjauhkan hamnah. respon nana cuma diem dan menatap saya. tapi setelah itu dia mau nenen lagi. biasa aja kayak gak terjadi apa-apa.
Asi saya gak cukup. Mungkin saya baru sadar dan baru mengakui, kalau managemen asi saya jelek. saya gak kontrol makanan yg saya makan dan saya gak doyan sayur! payah kan. selama ini, nana itu tipe nenen yang sebentar2 aja, gak pernah lama. pernah saat itu kondisi saya sedang sakit dan asi saya sama sekali gak keluar. zooonk! dia rewel sejadi-jadinya. dia belum mpasi pula. saya kelabakan. ditawarkan sufor oleh suami, saya masih menolak. saya masih merasa kePeDean bahwa saya masih sanggup menyusui dan asi saya cukup. mungkin saya sebenarnya itu awal dari managemen asi saya yang buruk. dan saya mencoba menutup mata.
Saya memutuskan untuk konsul ke dokter Apin. saya ceritakan semua keluhan2 hamnah. dan betapa kagetnya saya, selain nursing strike ternyata hamnah didiagnosis gagal tumbuh. "Beratnya kurang nih, bu." kata dr.Apin.
saya diresepkan susu untuk hamnah. susu dengan kalori tinggi yang harganya lumayan mahal. tapi gak papa, saya coba. Dr.Apin juga menyarankan untuk SNS (simulating nursing system). tapi sampai saat ini belum saya coba .
pulang dari dr.Apin, saya terus berpikir "kok bisa gagal tumbuh?" dan saya gak sadar juga? saya cuma berpikir, she's just a little baby, gak kepikiran kalo nana ternyata gagal tumbuh. iyaa sih, Bb nya 6,2kg diusia 11 bulan. itu sudah di garis kuning! walaupun Tb nya sesuai dengan usianya.
selain dr.Apin, saya juga konsul dengan konselor laktasi yang dikenalkan oleh kakak ipar saya. saya curhat malem-malem, panjang lebar, saya ungkapkan semua keluhan saya. Alhamdulillah, saya sedikit lega bisa menceritakan apa yang saya rasakan. bu konselor meminta saya untuk terus merelaktasi, bonding dengan skin to skin, meluangkan waktu yg lebih banyak dengan nana berdua saja tanpa diganggu oleh abang-abangnya.. sehari -dua hari-tiga hari, belum ada tanda-tanda hamnah akan balik ke dekapan saya. Dia masih mogok. Dan ini sudah tiga minggu! saya baca diartikel dan nanya ke temen yang punya pengalama sama, lama bayi NS itu sekitar satu mingguan. tapi nana sudah tiga minggu masih mogok nenen. Bedanya, dia sudah tidak menjerit dan menangis lagi jika saya tawarkan untuk nyusu. sampai akhirnya, saya berada pada situasi "okelah, sampe di sini aja deh kayaknya usaha saya. saya nyerah! saya pasrah deh kalo hamnah memang ternyata gak mau nenen lagi".
dan saya beralih ke sufor. Saya baca-baca lagi buku dr.Apin tentang sufor. saya bolak balik, saya baca ulang berkali-kali. dan saya memantapkan diri untuk memberi hamnah sufor. Saya mencoba berdamai dengan keegoisan diri saya sendiri, dan bahwa semuanya sudah takdir Allah dan semuanya akan baik-baik saja! saya hanya perlu bersabar dan memetik hikmahnya.

saya buatkan susu untuk hamnah. Dan ternyata, dia gak mau! saya coba berkali-kali, tetap hasilnya Hamnah menolak sufor juga. Dia menolak nenen dan sufor. Saya makin bingung. Karena bingung mau gimana lagi, saya coba sedikit kasih UHT (padahal usianya masih dibawah satu tahun hiks), cuma satu sedotan aja, selebihnya dia gak mau. oke fix! hamnah tipe anak gak doyan susu. itu hanya hipotesis saya aja ya. Yaa tapi kan mungkin aja, gak semua orang kan suka susu.

dan kini, tiga bulan berlalu tanpa asi dan sufor. beruntungnya, Alhamdulillah, selama NS ini nafsu makannya jadi melonjak. Berat badannya sedikit demi sedikit mulai naik. saat ini BB nya 7,1kg. Alhamdulillah senangnya. Saya coba masukkan bahan makanan yang tinggi kalori di dalam mpasinya. begitu juga dengan cemilannya, saya campurkan susu dan keju. Dia suka sekali. Jus alpukat pun lahap diminumnya.

sekarang nana sudah bisa tidur sendiri tanpa nenen dan tanpa rewel. Jika nana bangun tengah malam, saya siapkan air putih sebagai pengganti nenen. seperti malam lalu, tiba-tiba hamnah bangun jam 01.30 dini hari, nangis gak jelas kenapa. saya coba suapin dia makan dan ternyata dihabiskannya makanan itu. Tenyata dia LAPAR .
masyaAllaah..kirain kenapa dia hahaha...



ps : maaf ya hamnah kamu gak bisa nyusu sampe 2 tahun, seperti abang-abang kamu.
semoga hamnah sehat selalu yaa

sayang,
ibu


solat dulu, guys

Sabtu, 20 Juli 2019

school of me

bismillah...

alhamdulillah, udah hampir dua minggu ini bapaknya umar punya waktu yang lebih banyak di rumah. setelah melalui pemikiran yang alot dan panjang sejak tahun lalu, akhirnya diputuskan bahwa mulai tahun ajaran ini bapake sudah resign dari sekolah. sedih? ya pastilah. sudah empat tahun membersamai anak-anak di sekolah tiap hari, eh tiba-tiba jadi di rumah aja seharian. eits, tapi ini demi misi yang jauh lebih penting, lho. duile, misi apaan sih?
mau tau? apa mau tau banget?
hahahhahaa
jadi gini pemirsah.
sebenernya udah lamaaaa banget bapake tuh bercita-cita pengen punya sekolah sendiri, selain punya toko mainan sendiri ya tentunya hehe. iya bener, doi pengen banget punya sekolah dan muridnya ya anak-anaknya sendiri. yaa model homeschooling gitu lah, bukan sekolah formal.
awalnya kita pengen umar yang ikut homeschooling, tapi berhubung umarnya lebih seneng belajar di sekolah daripada di rumah, yasudah deh homeschooling hanya jadi wacana belaka (serius lho ini bukan alasan kalo emaknya males hahaha). Dan sampai saat ini umar masih betah di sekolahnya, alhamdulillah. karena sebenernya umar itu tipe anak yang mudah untuk belajar. dia itu bisa duduk tenang dengerin gurunya, yaa minimal bisa duduk tanpa jalan-jalan atau nengok kanan-kiri deh.
tapi kalau ali, hm, ini agak gimana gitu hahaha. ali itu jauuh lebih aktif dan gak bisa diem. tingkat distract nya tinggi, emosinya juga naik turun, gampang meledak-ledak, tapi sensitif banget anaknya. puyeng gak? kadang marah meledak-ledak, semenit kemudia dia bisa nangis sesengukan. perasa banget anaknya, persis kayak emaknya hahaha.
jadi, atas dasar keunikan ali itulah, bapake memutuskan untuk turun gunung ngajarin sendiri anaknya. biar apa? biar tepat sasaran aja. karena kan kita orangtuanya tau bangaimana cara menghadapi tipe anak seperti ali. lagipula, ali seneng banget diajarin bapaknya lho.
"ali mau di sekolah abang atau mau belajar sama bapak?" tanya saya kepada ali
"mau sama bapak"
begitu mulu jawabannya, ya seenggaknya sampai saat inilah. tau dah besok-besok.
hihihii
 jadi, alhamdulillah, udah dari taun lalu kita buka kelas belajar untuk anak-anak. belajarnya sih baru ngaji aja, sama calistung lah dikit-dikit. muridnya juga cuma lima anak dan jam belajarnya cuma satu setengah jam, seminggu tiga kali. dan tahun ini alhamduilillah sudah ada dua kelas, yaitu kelas SD san TK. Ali dan keempat temannya masuk ke kelas SD belajar sama bapak fajar. sedangkan untuk kelas TK saat ini ada tiga murid dan belajarnya sama saya. 
emang loe bisa ngajar, rhan? ENGGAK!
bener deh, ngajarin anak-anak itu susyaaaaahnya masyaAllah. dan saya sama sekali gak punya basic ngajar atau pendidikan keguruan. trus kok saya mau? nekat? yaa nggak juga lah. saya cuma merasa kira-kira apa ya yang bisa saya lakuin untuk orang-orang disekitar saya. khususnya untuk anak-anak saya sendiri. awalnya cuma mau ngajarin anak sendiri, eh ada temen yang minta anaknya juga ikut belajar di sini, ya uwis kita jadi belajar sama-sama. sampai akhirnya saya menyadari bahwa ngajarin anak sendiri itu lebih susaaaah dibandingkan ngarin anak orang. kenapa? menurut saya, saat saya ngajarin anak saya sendiri, saya mematok standar yang tinggi untuk mereka. mereka harus bisa ini, bisa itu, hafal ini, hafal itu, yang pada akhirnya bikin saya stres sendiri, capek sendiri. tenaga saya habis untuk berpikir kenapa anak saya belum bisa ini, belum bisa itu, belum hafal ini, belum hafal itu. lelaaah kan. padahal yang harusnya saya tau kalau yang kita ajarin itu seorang anak dengan keunikannya, bukan robot. dan akhirnya, saya menurunkan standar jauuuuh dan mulai memahami bawa belajar itu proses, butuh waktu yang lama plus butuh kesabaran ekstra. apalagi dengan tipe anak yang beda-beda, gak bisa pake satu standar untuk semua anak, ya gak. (sumpah ini gw ngomong apaan sih, kayak bener aja hahaha).
yaa intinya gitu lah, learning by doing, banyak nanya sama suami yang kebetulan sudah lebih dulu jadi guru dan punya banyak pengalaman tentang ngajarin anak-anak. banyak diskusi, banyak nanya, banyak curhat, banyak minta pendapat, dan banyak minta duit, eh hahaha maap keceplosan. yaa gitu lah obrolah hari-hari kita gak jauh-jauh dari tema sekolah anak dan tema keuangan rumah tangga tentunya ya.
oia, ini minggu pertama anak-anak belajar di rumah kami. exited, deg-degan, riweuh, dan perasaan campur aduk lainnya yang saya rasain. masalahnya kita bukan cuma ngajarin anak sendiri, tapi ada enam anak orang lain yang harus kita ajarin juga. tentunya ya tanggung jawab dan bebannya jauh lebih berat lagi.
mudah-mudahan berawal dari sekolah kecil ini, impian bapake pengen punya sekolah sendiri pelan-pelan bisa terrealisasi. sekolah yang sesuai dengan minat dan bakat anak, sekolah yang fun, santai, dan yang penting anaknya suka. first thing first, pilih yang paling prioritas diantara yang prioritas. karena kelak kita akan ditaya tentang waktu yang kita habiskan selama di dunia untuk apa. seperti nama sekolah kita, school of me, sekolah yang gw banget gitu lho simple nya hahaha. maap yak gak kreatif nyari nama sekolah. etapi, ini nama school of me udah ada dari beberapa taun lalu sebelum sekolahnya ada bahkan. pokoknya yang penting ada namanya dulu lah, ya gak?
doain juga ya pemirsah, mudah-mudahann kita istiqomah sampe kelar enam tahun tingkat SD. abis itu mereka mau sekolah formai, pesantren atau mau lanjut homeschoolingnya, it's up to them lah. yang penting mereka bahagia, gembira riaaaaa.
sekian deh tulisan ini berhubung anak bayik udah ikutan ngetok-ngetok laptop, daripada dia makin rusuh lebih baik kita sudahi saja yaa :)





Selasa, 22 Januari 2019

Ayah

Bismillaah... 
Awal ramadhan tahun ini saya mendapati berita yang membuat saya sedih. Bermula dari beberapa misscall yang masuk ke ponsel saya dari kakak saya di pamulang. "Ada apa ini miscal banyak banget?" (perasaan saya jadi tak karuan, khawatir ada sesuatu hal yang terjadi). Ya, benar saja. Beberap pesan wa dari kakak saya masuk dan mengabarkan bahwa ayah saya masuk ugd. Deg! ada apa? ayah kenapa? sakit apa? begitulah kira-kira yang ada di benak saya. Ayah saya yang kerja merantau di Sulawesi sana kembali ke Jakarta dengan kabar yang kurang mengenakkan. "Iya rhan, ayah di ugd RS Sa** As**, ayah gak papa, cuma kayaknya kena angin duduk lagi nih". Begitu kata ayah saat saya telepon. Ternyata, sebelum kembali ke Jakarta, ayah juga sempat di bawa ke ugd di salah satu rumah sakit di Kendari. Keluhannya sama, seperti kena angin duduk, tidak bisa BAB, tidak bisa buang angin, tidak bisa sendawa, dan sesak nafas. Ini bukan kali pertama saya mendapat kabar ayah kena angin duduk. Ayah bercerita bahwa ayah pernah beberapa kali terserang angin duduk, dan alhamdulillah sembuh keesokan hari ini. Tapi, berbeda dengan kali ini. Sudah beberapa hari perut ayah kembung dan sesak nafas. Hasil ronsen di Rs menunjukkan banyak gelembung-gelembung kecil di perut ayah. Namun dokter ugd tidak bisa memastikan apa gelembung tersebut dan tidak bisa memberikan diagnosis. Tidak ada dokter spesialis hari itu, karena saat itu weekend. Akhirnya ayah diizinkan pulang dengan bekal obat pencahar. Hasilnya? qodarullah, semalaman ayah tidak bisa tidur karena sesak. Obat pencahar juga belum berhasil membuat ayah BAB. Di urut pun sudah, tapi hasilnya masih sama saja. Jam 00.30 pagi kakak saya membangunkan, dia bilang ayah sepertinya harus di bawa ke RS lagi karena khawatir dengan kondisi ayah. Sayangnya, saya tidak bisa ikut menemani ayah karena harus menjaga tiga anak bocah yang masih terlelap pulas. Ayah, kakak Dan suami saya berangkat pagi buta ke RS sar* as**. Ternyata dokter ugd tidak bisa mengambil tindakan apapun sehingga ayah di rujuk ke RS Fatmawa**. Hasilnya sama, dokter ugd juga tidak bisa mendiagnosis penyakit ayah Dan tidak bisa melakukan tindakan apapun. Ayah di rujuk lagi ke RS swasta di daerah BSD. Di sana, ayah langsung masuk ugd Dan dokter jaga segera menghubungi dokter specialis. Tak lama dokter specialis pun datang dan mengambil tindakan untuk mengoperasi ayah. Apa pasal langsung dioperasi? Hasil ronsen ayah menunjukkan banyak gelembung di dalam perut, namun dokter harus memastikan Ada apa di dalam perut ayah sehingga membutuhkan tindakan operasi. saya menunggu dengan rasa cemas Dan galau. Sedih melihat kondisi ayah yang tidak lagi muda harus mengalami rasa sakit seperti itu. Sampai akhirnya pagi pun datang, Dan saya mendapati kabar dari kakak saya bahwa Ada tumor di dalam usus besar ayah. Denger kata tumor, saya Makin gak karuan. Kenapa bisa Ada tumor? tumor ganas atau tidak? tapi, kalau melihat dari pola hidup ayah, penyakit ini mungkin saja bisa terjadi. merokok, tidak olahraga, makan sembarangan, kurang istirahat sepertinya memang tidak diragukan bahwa penyakit ini bisa muncul. *** kini, sudah satu bulan sejak ayah operasi pengangkatan tumor. Bagaimana kelanjutannya? *tarik napas panjang dulu Awal ramadhan adalah jadwal ayah cek up setelah operasi. Ayah ditemani kakak saya berangkat ke RS. Menjelang berbuka puasa, Ada wasap dari kakak yang mengabarkan bahwa qodarullah, tumor yang kemarin diangkat ialah tumor ganas ��. Pilihannya ialah harus kemo! yang tadinya laper nunggu bedug magrib, tiba-tiba saya jadi. ngerasa kenyang, perasaan sedih gak karuan. Mendengar kata kemo apa lagi, membuat saya Makin sedih. trus, gimana hasil labnya? Ini adalah kabar gembira ditengah gempuran kabar sedihnya. Hasil cea ayah 2,2 (batas normal cea adalah 5). itu tandanya kondisi ayah normal Dan belum Ada penyebaran sel kanker di organ tubuh ayah. Alhamdulillah Tapi tetap saja harus kemo untuk mencegah penyebaran sel kanker. Alhamdulillah ayah juga merasa sedikit lega. Mulai sejak itu, saya rajin googling tentang kanker usus Dan kemoterapi. juga bertanya pada teman-teman yang paham tentang kemo Dan kanker. Banyak information yang saya dapati Dan masih Ada kesempatan untuk ayah sembuh insyaAllah. Diusianya yang memasuki 60 tahun, tentu ini bukanlah Hal yang mudah untuk dihadapi. Tapi, Ada hikmah besar yang Allah berikan dalam setiap peristiwa, bukan. Salah satunya ialah, ayah berhenti merokok! setelah berpuluh-puluh tahun lamanya. Alhamdulillah, bulan ramadhan ini ayah jg ikut berpuasa. semoga ayah terus semangat Dan kuat ya. Laa tahzan, innaLLaha ma'ana...

Senin, 21 Januari 2019

Hamnah

Ini cerita tentang Hamnah...
Adzan magrib sudah bergema, waktu mwnunjukkan pukul 18.00. Hari itu tanggal 01 oktober 2018. Saya sudah berbaring di kasur, sembari menikmati sensasi mulas yang luar biasa. Baru saja dua menit lalu air ketuban pecah. Byaar, seperti balon yang meletus lalu mengeluarkan air. Basah.
“tahan dulu um, tahan dulu. ayo jalan ke kasur. jangan lahiran di sini.” seru bidan setengah panik karena melihat gelagat saya yang sudah mau ngeden :D
Tertatih, saya dibopong oleh bidan Via menuju kasur. Dan inilah saatnya. Saat-saat yang saya nantikan sejak 40 minggu lalu.



Hamnah lahir diusia kehamilan saya yang sudah lewat 40 minggu. Sejak usia 38 minggu saya sudah harap-harap cemas, galau, rungsing karena kepikiran kenapa saya belum mulas juga. Pengalaman lahiran ketiga abangnya, rata-rata maju dari due date nya. Umar lahir diusia 39 minggu, Isa lahir di 38 minggu, hanya Ali saya yang lahir tepat diusia 40 minggu pas dengan due date nya.
Kehamilan keempat ini banyak dramanya. Banyak emosinya yang sebenernya gak perlu ada, dan akhirnya berdampak sama anak-anak yang lainnya. Saya jadi lebih sering banget marah. Bukan cuma itu aja, bahkan berat bdan saya pun gak naik selama empat bulan. Berhenti diangka 57kg selama 4 bulan. Sampai bidannya tanya, “kenapa sih, emangnya masih mual, gak nafsu makan?”. Saya cuma nyengir aja.
Hamnah diperkirakan lahir tanggal 28 september 2018. Namun, ternyata saya belum mulas juga. Tanda-tanda kontraksi aja gak ada sama sekali. Flek aja gak keluar. Bingung gak? Saya cerita ke ibu-ibu tentang kehamilan yang kali ini, mereka bilang supaya saya gak stres dan gak usah kepikiran. Bahkan lucunya, temen saya ngomong gini, “udah tenang aja. kalo anak cewek tuh lama tau keluarnya soalnya dia mau dandan dulu (emoticon ngakak).”
Biar gak tambah drama, besokannya saya konsul ke dokter Prita di JIH. Alhamdulillah banet, saya senang kalo ketemu dokter Prita, beliau tuh nenangin, ngasih support, detail jelasin semua gerakan janin. sampai beliau jelasin kalau kondisi bayi masih dalam keadaan normal, baik air ketuban maupun detak jantungnya.
“Saya bisa lahiran normal kan dok?”
“yaa kita usahakan untuk normal.”
“trus kira-kira kapan saya bisa lahiran (pertanyaan yang aneh, mungkin dalam hati dokter prita dia pengen nyaut meneketehe)?”
“mungkin nanti malem bisa mules.” jawaban spontan yang beliau keluarkan tapi bikin hati saya gembira ria, yeeaay ntar malem mules!
Malam harinya ternyata saya gak mules juga, ampe besok harinya dan besokannya lagi. Tetep aja gak mules. Sampai akhirnya pada 30 oktober flek itu datang juga. diikuti dengan kontraksi yang gak teratur.
Besokannya, 01 oktober pukul 17.00, kontraksi sudah mulai teratur, mules udah mulai sakit, dan udah ada scene nangis-nangisan. Nah, ini dia yang saya tunggu.
Semua sudah siap, saya siap dan hamnah juga siap untuk keluar. Katanya, bayi itu jenius lho. Dia bisa nangkep sinyal-sinyal dari ibunya. Dia tau kapan harus keluar. dan yang harus saya lakukan ialah percaya sama hamnah. mungkin dia nunggu saat ibunya sudah siap dalam semuanya. Dan saat bayi lahir, ibunya dalam kondisi bahagia dan no drama.
Selamat datang ya Hamnah
Semoga Allah menjadikan kamu anak solihah
Semoga kamu bisa menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang sekitar kamu ya
:)
semangat ya untuk semuanya. yang lagi banyak drama atau yang lagi adem ayem, nikmatin aja ya semuanya hahaha. ambil hikmahnya aja, kali aja biar bisa jadi manusia yang lebih sabar. semoga drama yang lagi kita hadapi saat ini bisa menjadikan diri kita manusia yang lebih baik, ya kan.
..........
Hamnah binti Fajar Muhammad
01.10.2018, 18.07
3,3kg - 47cm

Syukur

Beberapa hari lalu saya kedatengan tamu di rumah, malem-malem. sebut aja ya namanya Ibu Fulanah ini seorang perempuan, seorang ibu. Dia juga seorang istri, ehm tapi sekarang gak tau lagi tentang kejelasan status pernikahannya. Dia punya anak, anaknya tinggal sama bapaknya.
Ibu Fulanah ini punya seorang ibu, yang baru dua tahun lalu ditemukan. Lha, emang sebelumnya ke mana ibunya itu? wallahu'alam, saya juga gak tau. Ibu Fulanah ini bercerita panjang lebar tentang kehidupannya, hidupnya yang susah. Di tengah-tengah ceritanya, dia terisak, "apa saya harus tinggal di kolong jembatan aja, um? ke mana lagi saya harus berteduh bersama emak saya yang sakit?"
Saya cuma diam, bingung, respon apa yang harus saya berikan. Bukan saya bermaksud gak berempati, cuma, sepanjang dia bercerita saya ngomong dalam hati, "kok bisa-bisanya ya saya gak bersyukur banget? kehidupan apa lagi yang loe pengen? tuh liat di depan mata loe ada seorang ibu yang nangis-nangis karena gak tau lagi ke mana dia harus berteduh!"
Berasa ditampar bolak-balik ya!
_______________________________________________________________________________
Ibu fulananh ini punya seorang ibu, qodarullah kondisinya gak baik. Ibunya menderita sakit mental. Skizofrenia, waham, halusinasi, atau apalah itu. Iya, sakit kayak gitu, Ibu fulanah ini seorang diri mengurus ibunya. Dia bingung hendak ke mana. Mau bawa ibunya ke panti rehabilitasi, tapi apa daya surat-surat kelengkapan tidak mencukupi. Kartu keluarga pun tak ada, KTP hanya punya fotokopian, dan sayangnya di panti rehabilitasi hanya menerima pasien warga DKI saja sedangkan ibu fulanah ini warga daerah Bogor.
Uang? jangan tanya masalah uang lah. Kalau dia kaya raya kan gak mungkin juga dia malem-malem wara-wiri ke sana ke mari buat cari bantuan. Bantuan apapun. Walau hanya sekedar pelukan hangat yang menguatkan.
Dia bercerita, pernah satu kali ia hanya punya uang sepuluh ribu rupiah saja untuk makan selama tiga hari. Uang sepuluh ribu itu diberikan hanya untuk makan ibunya saja, dia sudah tak peduli lagi dengan perutnya. Yang penying buat emak, begitu katanya.
Bantuan yang paling ia butuhkan saat ini ialah untuk memasukkan ibunya ke panti rehabilitasi atau rumah sakit. Selain ibunya bisa mendapat perawatan medis, juga agar ibu fulanah bisa mencari kerja untuk hidupnya sehari-hari.
______________________________________________________________________________
Gak lama dia bercerita mengeluarkan isi hatinya. Sedih.
Iya, saya juga sedih. Sedih melihat diri saya yang seringkali gak bisa bersyukur, merasa pengen ini itu, gak qona'ah, dan gak pernah merasa cukup.
Saya, harusnya lebih banyak-banyak bersyukur bukan, Saya masih punya kedua orangtua yang alhamdulillah sampai saat ini masih sehat, masih bisa saya lihat wajahnya, masih bisa saya kirimi whatsapp, masih bisa saya dengar suaranya.
Saya, harusnya lebih pandai bersyukur kan. Punya atap untuk berteduh, punya lauk untuk dimakan, punya kendaraan untuk dipakai.

Lalu, kenapa masih sulit untuk bersyukur?

 gambar : http://ep.upy.ac.id


Minggu, 09 Desember 2018

ada kalanya

Ada kalanya, anak-anak itu nyebelin banget
tiba-tiba nangis tanpa sebab
bangunin tidur tengah malem cuma minta temenin pipis

ada kalanya mereka itu gak bisa dikasih tau
parahnya lagi udah bisa ngejawab saat kita lagi serius "ceramah"

ada kalanya, anak-anak itu ngeselin banget
abangnya yang gak mau ngalah
adeknya yang udah nangis jejeritan

ada kalanya, mereka minta makan tapi harus disuapin
padalah ibunya lagi riweuh ngurusin cucian yang belom kering

ada kalanya, mereka minta ditemenin tidur
padahal cuciann piring masih numpuk
padahal perut ibu udah keroncongan

ada kalanya, mereka berantem sampe pukul-pukulan
kadang juga pake adegan tendangan sama jambakan
ibunya cuma bingung antara jadi wasit atau tinggal tidur

lucu ya,

kini masanya mereka teriakann di dalem rumah
tapi nanti ada waktunya rumah terasa sangat sepi

kini, mereka masih minta disuapin makan
tapi nanti mungkin mereka malas makan di rumah

kini, mereka selalu minta ditemanin tidur
tapi nanti, pintu kamar mereka selalu tertutup rapat

kini, mereka lagi seneng-senengnya glendotin ibunya
ngekorin kemana ibunya pergi
tapi nanti, mereka mungkin akan sulit untuk dihubungi

kini, mereka lagi cerewet-cerewetnya nanya ini itu
tanya kenapa begini kenapa begitu
tapi nanti, mungkin akan sulit bagi ibu untuk ngobrol berdua

lucu ya,

semua hanya masalah waktu



Rabu, 11 Oktober 2017

Sindrom Anak Kedua

Dulu, waktu masih kuliah, di kelas kita kedatangan seorang dosen tamu. Mata kuliah yang diajarkan dialah psikologi mikro (kalau gak salah). Saat itu, dosen tamu tersebut menanyakan pada tiap mahasiswa dan mahasiswi tentang masalah apa yang sedang kami alami saat itu. Masing-masing dari kita menyampaikan masalah yang kita hadapi di depan teman lainnya dan para dosen. Malu? Ya jelas lah, tapi kapan lagi coba curhat didengerin sama dosen :p.
Suasana kelas tiba-tiba berubah jadi hening dan melow. Suara tangis dari beberapa teman yang curhat membuat saya berpikir bahwa dibalik sikap riangnya ternyata mereka juga menyimpan masalah yang berat. Mulai dari masalah sama keluarga, sama temen, masalah di kampus, percintaan, atau masalah apa saja boleh dicuhatin. Beliau siap jadi pendengar yang baik.

Tibalah saya yang harus menceritakan masalah saya. Hm, sebenernya sih saat itu saya rasa hidup saya lagi adem-ayem. Walau memang sejak dulu ada masalah yang mengusik saya. saya ceritakan bahwa saya sulit akur dengan keluarga saya, baikitu kakak dan adik saya ataupun kedua orangtua saya. Sejak kecil saya menghadapi sibling rivalry dengan mereka. Saya cukup menyadari kondisi saya sebagai anak tengah kadang membuat saya jadi serba salah. Berantem sama kakak, jangan tanya deh. Kita berantem udah kayak makan, sehari bisa tiga kali atau lebih. Sama adik saya juga begitu. Hal itu yang membuat kondisi persaudaarn kita jadi gak sehat. Pun sampai saya kuliah kita masih suka berantem, yang dipicu oleh masalah yang lebih kompleks.
Mendengar curhatan saya, dosen tersebut menjelaskan tentang second/middle child syndrome. Itulah pertama kali saya tau tentang konsep tersebut. Ada apa sih dengan anak kedua? Kenapa sih mereka kayak anak yang suka cari masalah? Suka bermasalah dengan orang lain dan cenderung pemberontak? Walaupun ada sebagian dari mereka yang lebih introvert.
Bertahun-tahun saya menjadi anak kedua, saya diapit oleh kakak dan adik saya. Saya merasa kalau sifat saya berbeda jauh dengan kakak dan adik saya. Saya cenderung pendiam, pemalu dan mengalah. Sedangkan kakak dan adik saya cenderung bersikap egois.
Sindrom anak tengah ini disebabkan karena kurangnya perhatian dari orangtua. Orangtua memberikan tanggung jawab kepada kakak sebagai anak tertua dan memberikan kasih sayang keda adik sebagai anak yang paling kecil. Lalu, anak kedua dapat apa? Ya gak dapet apa-apa kan. Mostly, nak-anak yang kurang perhatian akan mencari cara apapun untuk mendapatkan kembali perhatian dari orangtuanya. Cara yang mereka lakukan berbeda-beda, kebanyakan sih mereka suka mencari masalah untuk mendapatkan perhatian. Nah tapi ini yang berbeda dri saya. Saya menjadi orang yang terlalu sensitif. Merasa bahwa semua orang gak ada yang perhatian dan sayang sama saya sehingga saya lebih suka menyediri dan diam. Mengasihani hidup, itu sih yang saya lakukan. Jelas saja, sikap saya itu sangat tidak baik bagi diri saya sendiri.

Sekarang, saya mencoba memahami kondisi Ali sebagai anak kedua. Secara umum, banyak orang-orang yang berkomentar bahwa karakeristik Ali jauh berbeda dengan Umar. Saya yakin, setiap anak itu unik dan membawa sifat uniknya pada diri mereka sendiri. Ali adalah anak yang lebih mudah bergaul dengan orang lain, tetapi di sisi lain ia lebih menyukai bermain secara solitaire atau sendiri. Gak ada teman main? Gak masalah untuk Ali, dia cukup menikmati waktu-waktu bermain sendirinya. Terkait dengan sindrom anak kedua, saya merasakan bahwa Ali memiliki karakteristik dalam sindrom tersebut.

Ali itu anak yang supel tetapi ia mudah tersulut emosi, sumbu pendek. Ada sesuatu hal yang mengganggu dia pasti Ali akan menunjukkan sikap tidak senangnya saat itu juga. Berbagai ekspresi dan perilku Ali tunjukkan untuk mengungkapkan perasaan marahnya. Marah, teriak, membanting mainan, ngedumel, dan diam adalah cara yang ali gunakann untuk mengungkapkan emosi dan mencari perhatian saya. Kalau mood saya lagi bagus, saya bisa saja santai menghadapi sikap ali tersebut. Tapi sering kali mood saya ikut berantakan dan terbawa emosi menuruti sikap ali tersebut. Akhirnya saya dan ali jadi maah-marahan. dan, butuh waktu yang lama untuk membujuk ali bersikap baik kembali.

Seringkali saat Ali marah dia selalu mengatakan bahwa saya gak sayang sama dia.Bahwa saya jahat. Gak usah diambil hati kan, dia bilang begitu hanya untuk mengungkapkan perasaannya saat iyu. Bila perasaannya sudah membaik, ali berubah menjadi anak yang manis dan mengatakan bahwa dia sayang sama saya. Lucu kan. Namun masalahnya, saya sering kali gak sabaran menghadapi sikap Ali.

Pada kondisi seperti ini, syaa seharusnya mulai memahami kondisi masing-masing anak. Bukan cuma Ali yang mungkin mengalami sindrim anak tengah, tapi Umar dan Isa pun mungkin memiliki masalahnya sendiri. Kadang saya membandingkan kehidupan kecil saya dengan mereka. Saya ingin anak-anak bisa mendapatkan perhatian yang sama dari kedua orangtuanya. Juga, masih banyak perilaku diri saya yang harus saya benahi. Managemen emosi menjadi PR besar dalamm diri saya. Saya kesulitan untuk mengelola perasaan saya yang akhirnya membuat hari-hari saya seolah berantakan gak karuan gegara masalah sepele. 


Rabu, 27 Januari 2016

Tamasya ke Taman Topi

Selasa kemaren, secara dadakan, kita pergi jalan-jalan ke taman topi. Awalnya sih, pergi kesana buat ngajak umar dan ali jalan-jalan naik kereta api. Namanya bocah yak, demen banget kalo jalan-jalan naik kereta, emak bapaknya juga seneng sih, murah soalnya hahaha. 
Selasa pagi saya googling mainan apa aja yang ada di taman topi. Dulu waktu kuliah pernah mampir bentar di taman topi, beli roti unyil doang dan setau saya gak ada permainan anak-anak disana. Ternyata oh ternyata, ada wahana permainan anak lho. Seru juga. Hasil googlingan, kalau di taman topi itu ada bom-bom car, taman air, monorail, kuda-kudaan, dan banyak lagi deh wahana anak lainnya.
 
                                                                  (sumber : google)
Dua bocah yang sedari pagi udah diinfoin bahwa kita mau ke taman topi, udah kegirangan banget. 
Sehabis bapak Fajar pulang sekolah, makan bentar trus kita langsung cus ke ITC depok. Markir mobil disana terus kita jalan kaki ke stasiun depok baru. Sebenernya sih ada parkiran mobil di stasiun, cuma bapake kemaren belum arah parkiran mobilnya.
 Harga tiket depok-bogor dua rebu rupiah saja plus asuransi kartunya, total jadi dua belas rebu. Anak usia dibawah tiga tahun free charge. Perjalanan depok-bogor seru juga. Enaknya naik kereta itu bisa liat-liat pemandangan sekitar. Yaah, kalo kemaren sih pemandangannya rumah-rumah penduduk aja ama kebon dah. Saking serunya, dua bocah itu nggak mau tidur, padahal kita berangkat dijam tidur siangnya mereka. Yaa maklum aja deh, lagi bahagia.
Perjalanan depok-bogor memakan waktu kurleb tiga puluh menit. Sesampainya di stasiun bogor, kita langsung menuju arah taman topi yang berada di sebelah kiri stasiun. Clingak-clinguk disekitaran taman topi, kok gak lihat ada wahana anaknya. Nah, ternyata taman topi agak ngumpet ke arah belakang. Tapi jangan khawatir, ada petunjuk arahnya kok, biar gak nyasar :D.
Tiket masuk taman topi tujuh rebu rupiah per orang. Anak usia dibawah tiga tahun gratis tis. Daan, seru juga ternyata, mainannya lumayan variatif kok. Anak-anak bocah udah pasti seneng deh. Tiket mainan setiap wahana dibandrol lima rebu rupiah saja.

 
Wahana pertama yang umar naikin adalah gajah terbang. Walaupun namanya gajah terbang, gak semuanya gajah kok ada angry bird terbang juga :p. Bapak, umar dan ali naik robot terbang. Udah ketauan kaan siapa yang paling bahagia naik wahana ini?? Yup, bapak fajar yang paling seneng kayaknya. Abisnya setiap foto menunjukkan senyum sumringahnya doi waktu naik robot ini. Masa kecil terlalu indah sampai ingin diulang lagi hehehe.
 
Permainan selanjutnya mobil antik. Mobil antik ini bakal membawa penumpang muterin area permainan taman topi. Jaraknya sih ga jauh ya, cuma seneng aja muter-muter sambil foto-foto. Harga tiketnya juga sama, lima rebu per orang. Lanjut abang dan ali naik kereta api yang ada terowongan kecilnya. Tiketnya juga lima rebu dan lumayan lama juga puteran keretanya. Asli, anak-anak jadi seneng banget. Wahana terakhir yang kita mainin yaitu gajah terbang (lagi) dan helikopter. Tapi sepertinya emang seru deh gajah terbang itu, soalnya wahana ini bisa terbang, maksudnya bisa naik ke atas gitu. Jadi seperti memacu adrenalin lah buat anak-anak, dan harus didampingi oleh orang dewasa. 
 
Anak-anak dan bapake main, ibu dan isa makan es duren aja. Murah meriah, tiga rebu aja, bisa dimakan berame-rame. Sudah puas (belom juga sih, karena udah sore aja jadi mesti pulang), kita duduk-duduk dulu laah di resto sekitaran taman topi. Harga makanan dan minuman juga relatif masuk diakal hehehe. Kemaren kita makan kwetiaw, sida susu dan strawberi sarang walet. segeeerrr... total makan dan minum tiga puluh lima ribu.
Pulang naik kereta lagi arah Jakarta yang lengang. dari bogor-depok, alhamdulillah bapak Fajar bisa duduk di dalem kereta yang adem dan ada tipinya hahahaa. Alhamdulillaah ya, sudah banyak kemajuan. 
Sore kemaren memang menyenangkan sekali. refresing tenga bulan. Gak usah jauh-jauh dan mueah meriah aja, yang penting kita semua happy. Anak senang, perut kenyang alhamdulillah. Boleh lah, jadi agenda dua minggu sekali, yaa kan. Kumpul-kumpul bersama orang yang kita sayangi itu memang sebuah rezeki. Bisa ketawa-ketawa, cerita-cerita. Semoga gak cuma di dunia aja ya kita bisa kumpul-kumpul bersama orang yang kita sayang, insya Allah berkumpul juga di surga ya #senyum.


Depok, 27 Januari 2016

Senin, 18 Januari 2016

Bikin Bolu, hasilnya Bantet. #KamiTidakTakut

Tagar yang lagi nge-hietz nih,.ikutan aja lah biar dibilang gaul wkwkwk. Tapi mah, saya gak mau ikut-ikutan menganalisis tragedi 14 Januari kemaren. Saya mah pengen menganalisis kenapa teh itu bolu kukus jadi ga mekar. Gatot, gagal total, bantet sebantet-bantetnya. syediih :(

Berawal dari resep yg berseliweran di fesbuk, kok ya pas diliat-liat sepertinya mudah gitu buatnya. Bahan-bahannya juga ada semua di dapur. Jadi lah tuh resep di save di hp. Saya liatin tuh resep tiap hari. Sebenernya saya kurang suka bikin kue-kue, palagi bolu kukus, takut bantet. Udah cape buatnya, capek nyuci piringnya, trus bantet. Kan sedih. Ujung-ujungnya maksa bapak Fajar buat makan kue yg bantet deh. Tapiiii...bolu kukus gula jawa ini memang simple. mulai dari bahan-bahannya dan cara membuatnya.

                                         (bahan : terigu, garam, gula jawa, minyak, air, dann telur)

Cara buatnya tinggal cemplang-cemplung aja. daan..disinilah tragedi bantet itu bermula. Saya tau, yg namanya bikin kue itu agak-agak tricky. Kadang kita spertinya sudah mengikuti plek-plek cara membuatnya, tapi kenapa masih gagal juga? masih bantet juga? Itu dia yg bikin saya agak-agak males kalo bikin kue, apalagi cookies. hahaha.. kalau buat masakan lauk kayaknya lebih cocok buat saya. Kalo rasanya ga enak, tinggal cocolin sambel aja dan rasanya masih bisa tertolong. Lha, masa iya kalo kue nya bantet trus dicocolin sambel gitu?hehehee..itu sih menurut gw aja yak :D


                                                 hasil adonan yang lebih mirip kayak karet :(

Lanjut. Jadi kesalahan saya ialah mencampur semua bahan jadi satu. Terigu,.telor, baking powder, garem ampe minyak gorengnya saya cemplungin semua. Dan tadaaa, adonannya menggumpal. Dan disinilah saya sadar kalo bolu kukus ini tak akan berhasil. tapi saya masih ada secuil harapan. Kali aja kalo saya campur dengan gula jawa yg sudah dicairkan, adonan ini akan kembali menjadi normal, walaupun pada akhirnya tidak. adonannya sama sekali tidak sperti bolu kukus pada umumnya. adonan ini kental seperti karet hehehe. tapi alhamdulillaah..wangi kuenya masih tertolong, ga sedih-sedih amat lah. Laluu..siapin cup bolu dan kertasnya, tuang adonan ke dalam cup sampe agak penuh terus kukus dalam panci yg airnya sudah mendidih. Kira-kira 15 menit deh, trus saya iseng pengen buka tutup panci berharap bolu saya mekar sumringah hehehe. Pas dibuka, ya gitu deh hahaha..bolunya mingkem, bantet sempurna. Ya ga papalaah..bentuknya aja yg kurang memesona, masalah rasa mah masih alhamdulillah. bisa masuk ke tenggorokan aja udah alhamdulillah pokoknya. tapi yang bikin terharu, kok Ali doyan ya? hahaha..bolu masih ngepul-ngepul asepnya,.Ali minta disuapin. Bener-bener pengertian banget dah.


Percobaan kue kali ini memang belum memuaskan. Ini bener-bener kesalahan saya dalam mengolah dan mencampur bahan-bahan. Naah, itu pentingnya ilmu. Apalagi buat ibu-ibu. Pengen menghidangkan masakan yg enak dan sehat buat keluarga harus ada ilmunya. Dari mana? googling laah..hape kan udah canggih :D. Gak papalah kali ini saya gagal, kue saya bantet. kalo kata orang kan, kegagalan adalah keberhasilan yg tertunda. Dibalik setiap kejadian ada hikmahnya. Mah..mah, hikmah! ceritanya manggil temen saya yg namanya Nurul Hikmah. gak lucu ya!

                                           hasil bolu yang mingkem tapi rasanya masih lumayanan deh ;p



Yaa...mungkin lain kesempatan saya akab posting bolu yg berhasil mekar. Insya Allah. #KamiTidakTakut mencoba buat kue lagi. Cemunguud eeaa!!

 ngikutin Ibu ngaduk-ngaduk adonan.


_____________________________________________________________________
Gula Jawa Ummi
asli Kebumen
Lebih Manis, Legit, dan Bersih
Harga Promo 
22.000/kg

Mau?
 0857-8021-7203

Selasa, 24 November 2015

Umar, si sulung

Bismillaah...

Umar...
usianya kini memasuki angka 4, tepatnya 4 tahun 3 bulan. Ini adalah bulan ke-empat Umar memasuki dunia barunya, dunia sekolah. Abang, begitu kami memanggilnya, mulai menikmati hari-harinya di sekolah. Bahkan, tadi pagi ia memaksa untuk pergi ke sekolah meski sebenarnya ia sudah hampir terlambat. Saya dan suami tidak ingin terlalu memaksakan umar untuk sekolah. Santai saja lah, apalagi abang masih duduk di bangku Play Group. Kalau abang sedang tidak ingin sekolah dan memilih bermain dengan temannya dirumah, yasudah. hehehe...

Awalnya, tidak mudah untuk abang beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Tempat yang baru, guru, dan teman-teman yang baru membuat abang tidak mau lepas dari saya. Pokoknya saya harus berada tepat disampingnya sampai jam belajar usai. Mengingat masa-masa itu membuat saya tertawa. Bagaimana tidak, saya harus menemani umar disekolah dan serta merta membawa Ali plus kondisi saya yang sedang hamil tua. Hehehe..lengkaplah. Walaupun jarak sekolahnya dekat, tetap saja butuh effort yang besar untuk ibu hamil saat itu. hahaha. Di dalam kelas pun umar belum bisa mengikuti kegiatan. Ia lebih banyak duduk diam dan nenarik-narik jilbab saya agar saya tidak keluar dari dalam kelas. Saya dan suami menganggap wajar sikap umar. Anak seperti umar bukanlah anak yang tidak bisa beradaptasi, tetapi ia hanya butuh waktu untuk mengenal lingkungan barunya. Diperjalanan pulang sekolah, saya selalu bilang ke umar kalau nanti adik bayi sudah lahir, ibu tidak bisa lagi menemani abang di sekolah. Ibu harus berada di rumah bersama adik bayi. Jadi, nanti abang diantar ke sekolah oleh bapak atau jiddi dan pulang di antar oleh ummu aman (salah satu ortu di sekolah). Alhamdulillah..setiap saya mengatakan itu umar mampu mengerti maksud saya. Awalnya saya agak khawatir jika umar tidak mau lagi sekolah jika tidak saya antar dan tidak ditemani. Pun, kalau hal itu sampai terjadi ya sudah gak masalah.

Dan, saat hari itu tiba dimana saya gak bisa lagi menemani umar di sekolah, justru saya mendapati hadiah yg sangat manis. Umar, anakku yang sholih, dengan mndirinya ia mau berangkat ke sekolah diantar oleh bapak. Untuk saya dan suami, kemandirian umar ialah sebuah kemajuan yang pesat. Bagi orang-orang yang mengenal umar, mungkin akan berpendapat jika umar anak yang pendiam, tidak banyak omong, cenderung sulit beradaptasi dan pemalu. Hehe..saya sih biasa aja nanggepinnya. Gak ada yang salah kok dengan anak yg pemalu, pendiam atau apalah. Setiap anak kan unik, mereka lahir sudah sepaket dengan bawaannya. Barangkali sifat umar yang lebih cenderung pendiam merupakan turunan dr sifat kedua orangtuanya. Dan saat ini saya pantas berbahagia, karena umar sudah mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Sudah punya teman akrab di rumah, sudah mau menghafal juzz amma di sekolah, juga sudah punya teman bermain mobil-mobilan di sekolah -Yahya, namanya-.

Umar berangkat ke sekolah jam 7.15 pagi. Sebenarnya sekolah dimulai pukul 08.00, tetapi umar ingin datang lebih awal sebab ia ingin bermain lebih lama dengan teman-temannya. Kegiatan di sekolah diisi dengan opening class, sholat dhuha, dzikir, murojaah, dan bermain. Umar senang sekali jika bu guru mengeluarkan kertas origami dan lem. Kegiatan lain yang umar senangi ialah menggambar dan mewarnai. Bu guru bilang kalau umar saat ini sudah jauh lebih baik dalam mengikuti kegiatan di sekolah. Umar sudah mau mengeluarkan suaranya saat murojaah atau saat ditanya oleh bu guru. Sekecil apapun perkembangan yang umar berikan, merupakan kemajuan yg besar bagi saya dan suami.

Semoga umar menjadi anak yang sholih, anak yg pintar, yang sehat ya. Semoga umar makin sayang sama bapak, ibu, ali dan Isa.
Baarakallahu fiik..

love,
Ibu

Jumat, 18 September 2015

Isa, ats-tsaalits (Isa, yang ketiga)

Bismillah...
It's about you...yes you, Isa!

Alhamdulillaah... masih anget banget notes yg saya tulis ttg kehamilan ketiga yg sdh masuk minggu 38. Dan qodarullah, malam harinya Isa lahir ke dunia.

-----

Pagi, 29 Agustus 2015, emang nih badan udah ga karuan banget rasanya, nikmatlah. Pinggang berasa encok, perut makin begah, nafas terengah-engah, jalan udah kayak pinguin, Ya Allah rasanya pengen cepet lahiran aja dah. Begitulah kira2 rasanya.
Daan...ucapan itu kan doa ya. Hamil ketiga ini saya rasain beda banget dr kehamilan Umar dan Ali. Apa karena faktor usia? Padahal saya kan baru kepala 2? :( ;(
Capek, pegel, rungsing, marah2, udah kayak lauk pauk tiap hari. Trus, saya sering bilang ke suami "rasanya pengen cepet lahiran aja deh, badan udah ga enak bnget..." walaupun BB saya cm naik 14kg.
Akhirnya Allah ijabah doa saya, Isa lahir di minggu ke 38 kurang sehari yang mana kecepetan 2 minggu dari HPL nya.

Sore harinya, 29 Agustus 2015, kaka ipar saya dateng dr bekasi. Udah berasa ngilu2 nih perut bagian bawah. Tapi masih nyantai sih, masih bisa ngobrol, mandiin bocah, yaa seperti biasa aja.
Sampai pada saat saya ke kamar mandi dan mendapati ada flek darah. O..o...sudah saatnya.
Buru-buru saya kasih tau suami, dan suami langsung bilang, "yaudah siap-siaplah". Enak bener ngomongnya ya, padahal yg sini mah deg-degan bener ngebayangin mules yg udah di depan mata.

Ba'da maghrib kaka ipar balik, dan mules saya ternyata sudah konstan. Kontraksi dengan interval 6-7 menit. Dan kali ini saya udah ga bisa nyantai, tapi meringis sambil nangis. Hahaa, padahal udah yg ketiga kalinya ngerasain gini tenyata gak berubah rasa mulesnya.
Saat mulesnya dateng, saya nangis terus. Lalu anak bocah saya, Ali, bilang ke saya "ibu..jangan angis (nangis) agi ya..." Ya Allah, Aliiiii...

Melihat kondisi saya yg udah mules2, suami nawarin mau ke bidan sekarang ga? Saya jawab nanti dulu, tunggu sampe flek darahnya keluar lagi.

Ba'da Isya, ternyata bukan cuma flek darah doang yg keluar tapi juga air ketuban yg ngerembes ga henti-henti. Panik! belum pernah ngerasain pecah ketuban dini. Nunggu suami balik dr masjid, saya nangis lagi. Cengeng dan ringkih ya gw! hahaha

Balik dr masjid, saya langsung bilang ke suami kl ketuban pecah dan saat itu jg langsung berangkat ke bidan. Ali terpaksa diajak nginep di bidan krn doi belom tidur. Dan umar tinggal di rumah sama jiddinya krn umar sdh tidur.

----

Sampe di bidan jam 20.30 dan sdh pembukaan 2. Mules...ilang...mules lagi...ilang lagi...begitu aja terus sampe akhirnya jam 22.00 alhamdulillah sdh pembukaan 5. Subhnallah..mulesnya nikmaat..makin sakit. Proses kelahiran kali ini ga ada adegan triak-triakan kyk waktu lahiran umar dan ali dulu. Mungkin krn faktor M kali ya, Malu! hahahaa..soalnya bidannya kan kenal jadi mesti jaim2 gitu deh.

22.15 dicek lg sama bidan alhamdulillah sdh pembukaan 10. Jarak 15menit saja sodarah-sodarah. Alhamdulillah Allah beri kemudahan.
Karena sdh pembukaan lengkap, bidan dan asistennya nyiapin alat2 persalinan kayak kapas, kasa, alat jait-menjait, suntik-menyuntik.
Alhamdulillah..ngeden yg pertama kepala Isa sdh keluar dan bbrp detik kemudian seluruh badan Isa sdh keluar dr rahim saya.
Masya Allah, begitu banyak kemudahan yg Allah berikan ada kelahiran ketiga saya.

Seorang bayi kecil yg badannya masih penuh dengan lemak bayi diletakkan di dada saya. Rasanya...bersyukur. Ternyata ini bayi yg 9 bulan udah anteng bangey boboan di perut saya.

Isa, semoga Allah menjadikanmu anak yg sholih, sehat, pintar, berbakti kpd orgtua, menjadi hamba yg taat kpd perintah Allah dan menjadikan Rasulullah sbg taulan hidupnya. Aamiin

Robbi habli minashshoolihiin

Isa, 15 Dzulqo'dah 1436 H (29.08.15)
22.20 wib
3,7 kg
50 cm

Depok, with love

Ibu
(12 September 2015)

It's 38 weeks

Bismillaah... It's 38 weeks -kurang sehari-

berhubung mager banget, males bangun ke ruang komputer daaan jadilah saya kembali curhat dimarih..

Besok tepatnya usia kemahilan saya sudah diangka 9 bulan 2 minggu. Masih ada 2 minggu lagi kl berdasarkan due date nya..
*tariiik napas

Udah 2 hari ini gak bisa tidur nyenyak. Badan rasanya gak karu-karuan, ga dapet posisi tidur yang PW. Terlentang nyesek, miring kanan kiri berasa kayak perut nempel dikasur and its means susah banget buat bangun, tengkurep makin ga mungkin. Belum lagi malem-malem buta kebelet pipis. Allahu akbar... Ntar malem mesti mikir keras gimana caranya biar bs tidur nyenyak nih...ampuun..bangun tidur rasanya badan pada sakit.. astaghfirullaah... *ketauan dah suka ngeluh

Minggu ke 38 ini blm ada tanda-tanda melahirkan. Sekitar 2 minggu yang lalu, ada bercak putih lengket, entah keputihan atau apa, dan blm ada tanda-tanda mules. Saya cek ke bidan katanya jg itu keputihan biasa, lama kelamaan keputihannya akan bercampur dengan darah yg artinya -insya Allah- bentar lagi mau beranak.
Emang sih, makin kesini say makin gak sabar pengen cepet-cepet melahirlan. Baju saya dan bayi sudah di packing sejak 2 minggu lalu, sudah masuk ke dalam mobil, biar nanti kalo udah berasa mules banget tinggal cuss deh ke bidan.
Bolak-balik saya buka lemari baju bayi, rasanya gimana gitu. Baju-bajunya udah dicuciin, udah wangi, tinggal nunggu dipakein aja ke anak bayi...uhuuuy..
Tapiiii....kalo inget-inget rasa mulesnya kontraksi waktu mau lahirin Umar dan Ali, kayaknya nyali saya jadi ciut lagi. Saya takut!
Takut ngerasain kontraksi yg udah ga karuan rasanya, malu kalo nanti mesti teriak-teriak lagi krn nahan sakit, takut ga bs ngeden, daan rasa takut yg paling besar yaitu takut kl saya ga kuat krn proses melahirkan itu seperti saya pasrah jika saat itu ga bs bertahan.. astaghfirullah. Dan perasaan itu sempet muncul saat sayq melahirkan Ali. Karena udah terlalu lelah dan nahan sakitnya mules, saya seperti ga sadar, sempet berpikir "gimana ya kalo malaikat maut dateng trus saya masih banyak dosa gini?".. trus saya nangis deh..istighfar semoga Allah menganpuni segala dosa saya.

Laluuu...
Insya Allah lahiran yg ketiga ini saya mau ke bidan aja. kenapa begituh? haha,gak napa-napa sih, berhubung udah pindah ke Depok sejak 6 bulan lalu, jarak antara rumah depok ke RS JIH di ps.rebo itu lumayaaan makan bensin banget. Kalo ga macet aja waktu perjalannya bisa 50 menit, gimana kalo macet? ya salam... Nyari-nyari RS yg deket rumah jugq udah, konsul sekali dgn dokter spog nya dan berakhir kurang puas sampai saya putuskan "oke, bulan depan ga mau konsul disitu lagi, sakitnya tuh disini (baca : dompet)"...
Laaluu...opsi kedua ialah bidan. Alhamdulillah, ada bidan delima deket rumah, cuma naik motor aja, 5 menit doang. Tp sayangnya di bidan ga ada alat usg, bidan cuma bs periksa pakai doppler aja yang buat ngitung detak jantung bayi. Kata perawatnya sih di bidan situ juga ada usg, tp diperiksanya sama dokter laki-laki. Hmf...okeh, bulan depan ga periksa di bidqn itu lagi..hehe..banyak maunya ya gw! walaupun bayarnya jauuuh lbh murah ketimbang konsul di dokter spog, tp bgmn lagi, masa mesti usg sama dokter laki-laki.
Daan..akhirnya kembali deh konsul ke JIH, biar kata jauh yaudah deh jabanin aja.
Sampai akhirnya bertemu dengan salah seorg wali murid di tempat suqmi ngajar yg mana beliau adalah seorang bidan delima. Yipiiie...sueneng lah daku.
Wasapan dengan bu bin tentang jadwal konsul, akhirnya minggu kemarin di minggu ke 37 datenglah kami ke bidan, namanya Bidan Novi tp didepok dikenalnya dengan sebutan bidan Icha. Liat-liat ruang bersalin dan kamar nifasnya, saya sih tertarik untuk melahirkan disini -insya Allah-. Lalu saya diperiksa dan alhamdulillah kepala bayi sudah pada posisi yang mantap untuk melahirkan. Tinggal tunggu mulesnya aja. Setelah periksa dan ngobrol-ngobrol seputar kehamilan saya niat pamit sambil ngeluarin dompet buat bayar konsul. Dan tau gaaak, saya ga perlu bayar apa-apa alias gratiis tiis pemirsah. Bingung dong (pura-pura bingung :p) knp gratis gt bu? Dan memang begitu ternyata, bidan novi hanya akan mengenakan tarif jika ada obat atau vitamin yg harus dibeli pasien. Alhamdulillah, semoga Allah membalas kebaikan Bu bidan.

yaa gitu deh cerita iseng-iseng ini. Pegel juga nulis pake hape..lebih baik kita bobo aah..sambil nunggu bapak suami, umar dan ali dr sekolah.

*ade bayi...kalo udah mau keluar kasih tanda-tanda dulu ya, wasapin dulu juga boleh :p....
see you soon, insya Allah..

Love,
Ibu, Bapak, Abang Umar, Mas Ali
(29 Agustus 2015)

Minggu, 26 Juli 2015

Tentang ASI, Bayi Kuning, Puput Pusar dan ISK

Bismillah...

Insya Alah pertengahan September nanti akan kedatangan anggota baru di keluarga kami, yup kelahiran bocah yang ketiga. Alhamdulillah, so far, bisa melewati delapan bulan setengah ini dengan "yaa gitu deh :D". Hamil ketiga ini emang beragam warnanya, gimana nggak? Sambil hamil sambil momong dua bocah balita yang subhanallah...hahahaa.. Alhamdulillaah

Pengen sharing aja nih masalah-masalah yang kerap ditemui para ibu setelah kelahiran anaknya. Sama juga lah macam saya yang parno dan panikan. Saya juga udah pernah review tentang puput pusarnya Ali dan alhamdulillah beberapa ibu pernah mengalami hal yang sama. Tulisan ini juga berdasarkan pengalaman pribadi saya aja dalam merawat dua bocah balita, Umar dan Ali. Semoga bisa menjadi pelajaran juga buat saya supaya gak panikan setelah melahirkan.

"Aduhh..gw takut deh Ran ASI gw ga keluar setelah melahirkan nanti. Nanti bayi gw haus dong, trus gw terpaksa ngasih sufor deh". Kira-kira gitu deh curhatan salah satu sahabat saya yang saat ini juga lagi hamil tua. Wajar sih karena beberapa bulan lalu kakaknya melahirkan anak pertaman dan qodarullah ASI nya gak keluar. Sudah dibantu dengan suplemen, madu, kurma, sayur mayur tapi tetep ga keluar dan harus memberikan sufor. Yaa..saya sih ga anti sufor. Memang mungkin ada beberapa kasus medis dimana sang ibu ga bisa memberika ASI. Walaupun belum bisa memberikan ASI, insya Allah kasih sayangnya gak akan berkurang ya. Mungkin dikelahiran anak kedua dan seterusnya nanti ASInya bisa lancar.
Alhamdulillah, saya masih bisa memberikan ASI kepada kedua anak saya selama dua tahun. Walaupun tersendat-sendat ditengah masa-masa menyusui. Setelah lahir Umar, anak pertama saya, ASI saya juga gak langsung keluar. Saya harus menunggu satu hari setengah sampai akhirnya ASI saya keluar. Lalu, saat ASI saya belum keluar apa yang saya berikan kepada UMAR? Gak ada. Saya gak kasih sufor sama sekali. Walaupun ada beberapa anggota keluarga yang menyarankan memberikan sufor dengan alasan, "nanti anaknya haus lho", dan semacamnya. Alhamdulillah dukungan suami dan dokter Prita (spog) sangat membantu saya. Dokter Prita bilang kalau bayi yang baru lahir mampu bertahan selama 48jam tanpa asupan apapun, karena bayi masih memiliki cadangan makanan yang dibawanya selama ia dalam kandungan ibunya. Walaupun ASI belum keluar, saya tetap berusaha untuk menyusui Umar untuk merangsang saraf-saraf dalam PD untuk meroduksi ASI. Keesokannya, saat saya kembali kerumah, ASI saya sudah mulai keluar dan saya merasa sangat senang karena bisa mulai menyusui Umar.
Bagaimana dengan Ali? Jujur saya saat menanti kelahiran Ali, saya gak terlalu khawatir tentang ASI saya, karena saat itu usia Umar belum genap dua tahun dan Umar masih menyusu. Tantangan lain yang harus saya hadapi ialah tandem ASI. Yaa..meyusui dua anak itu sungguh melelahkan. Umar belum bisa menerima keadaan kalau ia harus berbagi ASI dengan adiknya, hahaha...

Masalah selanjutnya yang saya hadapi saat kelahiran anak saya yaitu tentang bililubrin atau bayi kuning. Bayi kuning ini terjadi pada kelahiran anak kedua saya, Ali. Berdasarkan hasil tes lab (saya lupa angka konkretnya), dokter jaga menyarankan agar Ali disinar. Memang Ali terlihat kuning. Biasanya bayi kuning itu kan bisa dilihat dari  kulitnya yang ditenag dan bagian mata yang berwarna putih itu terlihat pucat. Setelah menerima hasil lab Ali, suami saya langsung googling  buat cari second opinion. Yaa..masa sih harus disinar. Dan alhamdulillah, berdasarkan hasil googling-an, ternyata gak selamanya bayi kuning harus disinar. Karena bayi yang baru lahir memang fungsi organ hatinya belum matag secara sempurna (CMIIW). Dan akhirnya saya bawa pulang Ali kerumah tanpa terapi sinar. Lalu apa yang saya lakukan? Sama halnya dengan ibu-ibu lainnya yang saya lakukan ialah menjemur Ali di bawah jam 9 pagi. Saya jemur kira-kira 15 menit. Selama seminggu saya jemur alhamdulillah kuningnya agak berkurang (cek kulit dan lihat bagian mata yang berwarna putih) tapi kulitnya Ali jadi hitam karena dijemur hahahaa.. Yaa..gak papa lah daripada mesti nginep di RS lagi buat disinar. Lalu, saya periksakan Ali ke Markas Sehat buat kontrol aja sih, dan ketemu dengan dr.Arum. Terkait masalah bayi kuning ini, justru dr.Arum menyarankan agar tidak menjemur bayi yang terindikasi kuning, karena kulit bayi yang masih sensitif akan kalah dengan sinar matahari. Mungkin itu juga yang mengakibatkan kulit Ali agak hitam ya, hahaa. dr. Arum menjelaskan sebenarnya terapi untuk bayi kuning itu ya perbanyak saja ASInya, bolehlah diajak keluar rumah agar bayi mendapatkan sinar matahari pagi. Tapi tidak perlu disetiap hari harus dijemur. Alhamdulillah setelah mengikuti saran dari dr.Arum, seminggu kemudian Ali sudah tidak terlihat kuning lagi.

Selasa, 19 Mei 2015

Orangtua durhaka, Mungkinkah?

Bismillah...

Rasulullah sholallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Setiap bayi yang dilahirkan pasti dalam keadaan fitrah (bertauhid). Ibu bapaknyalah  yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR. Bukhari dan Muslim)
---

Mulai nulis lagi sambil dihantui perasaan galau. Berawal saat saya membaca sebuah buku yang sudah lama saya beli tapi kayaknya belum pernah terjamah.
sumber foto : http://www.fajarilmubaru.com.

Baru baca mukadimahnya aja berasa kayak ditampar-tampar, terus mikir. Kenapa baru kebaca nih buku?
Lalu, otak saya seperti kosong melompng, kayak kaleng biskuit kosong kalau dipukul nyaring bunyinya karena ga ada isinya :(. Apa saya selama ini sudah menzalimi anak-anak saya tanpa sadar?
Ada sebuah kisah yang pernah terjadi pada zaman khalifah Umar bin Khottob radhiallahu'anhu, begini kisahnya :
              Pada zaman kekhalifahan Umar bin khottob radhiallahu'anhu datanglah seorang bapak yang mengadukan anaknya yang telah mendurhakainya. Khalifah Umar kemudian mengirimkan untuk memanggil anak tersebut. Ketika anak itu datang, khalifah bertanya kepadanya apakah benar ia durhaka kepada bapaknya. Sang anak menjawab, "Bapak saya telah memilihkan ibu yang melahirkan saya seorang hamba sahaya yang akhlak dan rupanya sangat jelek. ia tidak pernah mengajariku akhlak yang baik dan bapak pun tidak pernah memedulikan didikan akhlakku oleh ibuku." Setelah mendengar jawaban tersebut, khalifah Umar bertanya kepada sang bapak apakah yang dikatakan anaknya benar. Sang bapak terdiam. Khalifah Umar kemudian berkata pedanya, "Engkau telah durhaka kepada anakmu sebelum anakmu durhaka kepadamu."
Subhanallah, semoga kita sebagai orangtua terhindar dari durhaka kepada anak. 

Begitu besar peran dan tanggung jawab orangtua terhadap anaknya. Tidak setiap orangtua dikehendaki keturunan oleh Allah. Orangtua yang dikehendaki keturunan oleh Allah memiliki tanggung jawab yang berat, tidak hanya di duni tapi juga diakhirat. Kebutuhan materi ternyata tidak cukup bagi anak-anak. ebutuhan akan penddikan agama, akhlak yang baik, kasih sayang, cinta kasih, belaian justru paling dibutuhkan oleh anak. Bukan hanya menyiapkan anak agar menjadi pribadi yang mapan, tetapi juga menyiapkan anak menjadi pribadi yang soleh, mandiri, tanggung jawab dan akhlak baik lainnya. alu, darimana semua itu di dapat? Ya dari orangtua. 
Saya jadi berpikir lagi, mungkin gak ya kelak ada kurikulum atau materi khusus kayak "how to be a good, nice, loveable parents?" Materi ini bisa diberikan kepada anak-anak yang sudah beranjak remaja. Setiap orang berkeinginan untuk menikah dan memiliki keturunan, dan masa-masa dalam rumah tangga itu ternyata butuh ilmu, gak cuma modal uang. Masa-masa remaja kan masa transisi dari anak menuju jenjang dewasa. Masa akil baligh yang secara sistem repoduksi sudah matang. 
Nah, kembali ke kurikulum atau materi khusus itu, mungkin saya bisa diselipin sebagai salah satu mata pelajaran di SMA gitu, karena (menurut saya) itu pasti akan berguna banget. 
Saya jadi inget sama diri saya sendiri. Awal-awal nikah masak telor balado ada gosong dan kuning telornya belum matang. Bener-bener cuma bisa masak mie rebus sama air aja. Mau masak nasi mesti telpon temen saya dulu, terus dia kasih tutorial dari awal beras dicuci sampe masak beras jadi nasi aron baru deh berasnya dikukus. Amazing lah.Belum lagi keterampilan-keteramplan lain, kayak cuci baju, jahit celana yang robek, masak yang sehat, ganti bohlam, sampe betulin tangan robot-robotan Umar yang patah.Itu baru keterampilan-keterampilan dasar, gimana kalau sudah punya anak? Pastinya lebih banyak ilmu pendidikan anak uyang mesti kita cari. Nah, kalau materi kerumahtanggaan itu bisa menjadi salah satu mapel di SMA, mungkin beberapa fasilitaror yang akan mengisi seperti :
1. Koki buat ngajarin bagaimanan bikin makanan sehat dan MPASI;
2. Tukang Jahit, buat ngajarin cara jahit celana atau baju robek;
3. Psikolog, Pekerja Sosial, dan semacamnya untuk membekasi ilmu pskologisnya;
4. Tukang ledeng dan kawan-kawannya untuk ngajarin cara sederhana betulin kran bocor atau masang bohlam;
5. Entrepreneur, buat ngajarin cara berbisnis bagi ibu rumah tangga tanpa keluar rumah;
6. Apa lagi ya (tambahin dong :p)

Yaa..gitu deh kira-kira, banyak banget yang yang mesti dipelajari sebagai orangtua. Akan lebih baik lagi jika itu semua sudah dipersiapkan sejak anak remaja agar mereka bisa menyiapkan diri dengan baik dan matang. Insya Allah kelak tidak akan terjadi orangtua yang durhaka kepada anaknya.

Lalu saya, yang sekarang lagi ngetik ini sambil ditemenin Ali dan Umar yang lagi nonton video Upin Ipin di hape. Heuh
 Sumber foto : https://riewriew.files.wordpress.com

 رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Ya Allah, berikanlah kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksa neraka." (QS Al-Baqarah 201)

Kamis, 18 Desember 2014

Home, its a feeling

Bismillah...

Heu...mau mulai nulis lagi, kali ini agak melow kayaknya.
Gagal move on? Masa iya sih?
I'm counting down the days. Hari-hari belakangan ini dipenuhi kegiatan berbau packing. Yup, time to move. Pindahan bok! :(
Sedih gak sih kalo orang mau pindahan rumah? Lebay ya. Tapi emang gitu sih saya, melankolis.

Sampai usia saya saat ini, saya sudah mengalami 3 kali pindahan rumah. Yang pertama saat pindah dari tempat kelahiran saya di Ciledug ke rumah Pamulang yang sampai sekarang masih di tempatin oleh orangtua dan saudara saya.  Saya lahir di Ciledug dan tumbuh disana sampai usia saya 3 tahun. Yaa,,gak banyak sih kenangan yang nyangkut di otak saya. Beberapa kenangan yang masih bisa saya ingat memang kenangan-kenangan yang cukup berkenan buat saya. Misal, saya masih ingat kegiatan yang saya lakukan di Ciledug, yaitu saya ikut mama anter kakak saya ke TK. Saya main perosotan disana, atau kenangan saat saya jalan-jalan ke rumah tetangga sambil bawa dot susu dan bantal kesayangan. Selebihnya saya gak bisa mengingat kenangan apa lagi yang saya dapat disana. Kecuali saat saya lihat album foto dekil dirumah. Walaupun sudah berpuluh tahun pindah ke Pamulang, tapi Masya Allah, orangtua saya masih sesekali berkunjung kesana untuk silaturahim dengan tetangga-tetangga disana. Dan saat berkunjung, mereka gak bosan-bosan menceritakan kenangan-kenangan yang sama setiap kali bertemu.

Pindahan yang kedua yaitu saat saya akhirnya harus ikut kemana suami membawa saya, ciee. Pindahan dari Pamulang ke rumah Palapa, Pasar Minggu. Saat itu saya sering nangis dan melow, apalagi kalau bukan karena homesick. Tiap-tiap mama atau ayah saya telepon, abisannya saya suka sedih, trus mewek :(. Maklumlah anak rumahan yang gegara itu juga saya memilih untuk gak ngekos di Depok, karena gak mau jauh dari rumah. Jujur aja, rasanya gimana gitu saat akhirnya saya harus keluar dari rumah orangtua saya. Saya tumbuh dan bergaul dengan teman-teman yang asik. Banyak banget kenangan-kenangan yang masih keinget sampai sekarang. Masa kecil dan masa bermain saya ya di Pamulang. Kenalan sama anak-anak komplek, ngaji di masjid, maen bareng, dan berakhir di kegiatan karang taruna pas kita remaja. Masa sekolah saya juga dimulai di Pamulang. Mulai TK sampai kuliah ya di Pamulang.
Dulu, pernah ada isu-isu di rumah bahwa kita akan pindah dari rumah pamulang. Beuh, saya langsung sedih dan masuk kamar dan nulis ditembok kamar "rany gak mau pindah" hahaha noraklah pokoknya. Andai dinding-dinding dirumah tak bisu mungkin mereka akan mual karena ditulisin kata-kata norak macam gitu haha.
Dan sampai pada akhirnya saya menikah dan harus keluar ikut suami. Yaa..alhamdulillah walaupun sekarang gak tinggal di Pamulang lagi tapi saya masih menyempatkan waktu berkunjung atau menginap disana dan ketemu dengan teman-teman saya, walaupun sebentar yang pentingkan quality time nya haha.

Dan..yang saat ini harus saya hadapi lagi, pindahan yang ketiga. Pindah dari rumah Palapa ke Depok. Insya Allah gak lama lagi barang-barang packingan sudah bisa diangkut ke Depok. Saya rasa kalau perasaan ini juga dialami oleh setiap orang yang mau pindahan, ya kan. Menurut saya, saat kita pindah dari sebuah tempat ke tempat lain, seperti ada kenangan yang gak bisa ikut dibawa pindah. Mengamati setiap kamar yang selama empat tahun menjadi home buat saya dan harus saya tinggalkan, its weird, sedih. Disini rumah saya setelah saya menikah, lalu melahirkan dua bocah. Saat saya pertama kali menginjakkan kaki di jalan Palapa raya, saya amati setiap rumahdan berkata dalam hati, "yup..this is my future home.." dimana saya akan mengukir kenangan bersama keluarga baru saya. Disini kenangan-kenangan itu terukir. Juga, kenangan dengan Mama Tita - semoga Allah menyayanginya-. Tak jarang waktu siang saya habiskan bersamanya. Kita nonton TV sama-sama dan mengomentari berita yang gak penting, cuma buat ketawaan aja. Setiap sudut di ruang ini juga masih mengingatkan saya dengannya.
Dan, cuma di rumah Pamulang dan rumah Palapa saya baru merasakan bahwa banjir itu gak melulu datang dari luar rumah, tapi banjir juga bisa datang dari atas (baca : bocor). hahaa...dirumah Pamulang juga sama seperti itu, tetiba saat hujan deras air turun dari lantai atas dan byaaar aja gitu, dan saya cuma bisa bengong liat air segitu banyak, hahaha..

Yup..semoga ini gak berujung menjadi gagal move on ya. Kalau kata suami saya, "yaa..paling nangis-nangisan seminggu" hahhaa. Dan hari ini marmer sudah diangkut ke Depok, memang tinggal beberapa saat lagi. Gak terasa ya, its been 4 years, dan bersiap-siap menjadi warga Depok.
See you..

Palapa, 181214
http://www.smoothjazznetwork.com



Minggu, 22 September 2013

Menyapih Umar

"Ibuuu....ade nenen..." ucap Umar..
"abang Umar ?" tanya saya
"U..u..(baca :susu)" jawab Umar...

Begitulah penggalan kalimat antara saya dan Umar. Alhamdulillah sejak Agustus 2013 lalu, tepatnya sejak usia Umar 2 tahun, ia sudah sukses disapih :)

Sejak pertama kali menyusui memang saya berniat untuk bisa menyusui anak-anak saya hingga usia 2 tahun. Hal itu, saya terapkan pada Umar kala itu. Perjalanan menyusui selama dua tahun tentu bukan perkara yang mudah bagi saya. Ada kalanya Asi yang keluar sedikit, padahal usia Umar saat itu belum genap satu tahun, ditambah kndisi saya yang saat itu sedang hamil yang kedua. Huff...kadang banyak, kadang sedikit, kadang melimpah, kadang tak keluar sama sekali. Alhamdulillah 'ala kulli haal...

Kondisi yang parah saat menyusui yaitu ketika usia Umar 1,5 tahun dimana Asi saya tidak keluar setetes pun. Saya khawatir sekali, bingung. Akhritnya saya dan suami memutuskan untuk memberikan Umar susu tambahan, UHT. Sampai akhirnya saya memasuki usia kehamilan tujuh bulan, asi saya berubah warna menjadi bening, seperti kolostrum. Lalu saya konsulasikan ke dokter kandungan, menurutnya perubahan warna dan rasa asi itu merupakan hal yang wajar. Karena secara otomatis Asi akan memproses susu baru untuk bayi yang dikandung. Subhanallah.. jadi Umar dapat kolostrum dua kali :)

Saran dokter kandungan, kalau saat menyusui lalu terasa seperti kontraksi, harus berhenti sebentar dan me-rilex-an badan. Saat usia kandungan tujuh bulan, saya sering mengalami hal itu, saat sedang menyusui Umar tiba-tiba perut terasa kencang. Masa-masa itu juga masa terberat buat saya. Entah kenapa saat saya menyusui Umar, saya sering merasa melow dan sedih. Sering kali saya juga terbawa perasaan marah sama Umar, karena intensitas menyusu dan sering dan lamaaa. Saya jadi BT. Hmm..mungkin karena perubahan hormonal, psikologis, ditambah perut yang semakin membesar memvatasi ruang gerak saya. Tidur miring salah, terlentang salah, pokoknya serba salah banget.

Saya pernah ngobrol dengan beberapa ibu-ibu yang sudah sedang menyapih anaknya. Diantara mereka ada yang bercerita bahwa saat ia menyapih anakanya, ia menggunakan odol/pasta gigi yang ddioleskan di areolanya. Tujuannya, agar anaknya tidak mau menyusu karena rasa odol yang pedas. dan cara-cara lain dengan menggunakan bumbu-bumbu atau aroma yang pahit untuk menyapih anak. Hm..yaa sah-sah aja sih. Tapi, kalau saya pribadi, saya lebih memilih cara diskusi dengan anak tentang menyapih. Lagipula, menurut saya lho, apa cara-cara seperti itu malah menjadikan anak takut akan rasa pahit, pedas, atau rasa-rasa yang tidak enak lainnya ya? Padalah hidup ini, tidak melulu dengan rasa manis.....hehehe.. well, just my opinion :p

Lanjuuut....

Lalu saya membuat rencana baru buat Umar. Saya mulai membatasi jumlah dan waktu menyusunya. Dalam satu hari umar hanya boleh menyusu dua kali, yaitu waktu tidur siang dan malam, dengan waktu sepuluh menit. Alhamdulillah rencana itu lumayan berhasil sambil terus berbicara dengan Umar bahwa sebentar lagi ia akan mempunyai adik bayi. Awalnya umar selalu menangis dan menunjukkan ekspresi tidak suka saat saya mengatakan bahwa ia akan mempunyai adik bayi dan akan berhenti nenen. Sampai hari itu tibaa....

Umar menagis kencang sekali, sekencang-kencangnya di rumah sakit saat ia melihat saya menyusui adik Ali. Takjub. Mungkin yang ada di benak Umar ialah miliknya satu0satunya yang hampir dua tahun menjadi kepunyaannya seorang telah diambil adik bayi dan dia harus BERBAGI. Tidaaaaaak........

Siasatnya ialah TANDEM ASI. Satu kata buat tandem asi, Melelahkan....hufff...tapi mau bagaimana lagi? Saat itu cuma tandem yang jadi andalan saya saat Umar liat adiknya sedang menyusu. Mulai saat itu, saya kembali membatasi jumlah dan waktu menyusu Umar. Dalam satu hari, ia hanya boleh menyusu SATU KALI, yaitu waktu tidur malam dengan waktu 5 menit. I use stopwatch, Really..hehehe
Sambil terus menerus saya katakan pada Umar, bahwa bulan Agustus nanti usia Umar sudah dua tahun, dan itu tandanya Umar harus berhenti menyusu. Setiap malam saya lakukan itu. Senjata saya ialah susu UHT. Kalau Umar mau nyusu, saya tawarkan susu UHT dan dia mau, alhamdulillah.

Dan..tiba saatnya ketika usia Umar dua tahun, saat dia sudah siap tidak lagi menyusu dan minum susu UHT.


Baarakallahu fiik ya bunayy :)


Rabu, 18 September 2013

Dan..kau tak kembali

Dan..kau tidak kembali
Sampai saat ini
Sampai hari ini
Sampai aku menulis surat ini...untukmu...

Ya..sejak hari itu
Sejak malam itu
Terakhir kalinya aku melihatmu
Kini...kau belum juga kembali

Malam itu, malam kepergianmu
Saat kami baru saja tiba 
dari suatu tempat yang tak jauh
Kau menunggu di dalam rumah
Bersama teman kesayanganmu
Teman yang mengerti bahasamu

Kami datang
Kau duduk..seperti biasa di kursi itu
Kau berharap aku menuangkan sedikit makanan untukmu
Tapi aku terlalu lelah
Seharian berkutat dengan aroma rumah sakit

Lalu, kau pergi..
Seperti hari-hari biasanya
Kala malam kau keluar dan kembali di pagi hari..
Untuk makan

Tapi..tidak dengan pagi itu
Kau belum juga datang..
Ku tunggu kau hingga waktu siang...sore..lalu malam

Ku tunggu kau 
1 hari...
2 hari...
1 minggu...
sampai 4 bulan hingga kini..
Tak jua ku lihat ekor pendekmu
Kau tidak kembali

Aku sudah mencari
Tapi, kau tak ada
Aku tak tau harus mencari kemana lagi
Aku tak tau apa yang terjadi padamu...pada malam kepergiannmu
Hingga kau tak kembali sampai saat ini...

Buntel...
Mungkinkah kau masih ada.....

Ayah Pulang

Ramadhan, hari ke 21. Masjid Baitussalam, Pasar Minggu. 22.38 wib. . . Pena telah diangkat, tinta telah mengering. Sungguh, tiada daun yang ...